LiputanIslam.com—Israel dan Amerika Serikat secara resmi telah meninggalkan salah satu organisasi dunia, UNESCO, di penghujung tahun 2018 kemarin. Sebetulnya, kedua negara ini telah menarik diri pada 2017 silam. Tetapi, seperti diungkap oleh DW pada Senin (31/12), penarikan diri baru berlaku setahun kemudian, yaitu pada 31 Desember 2018.

UNESCO adalah salah satu organisasi dunia yang terkait dengan sains, pendidikan, dan kebudayaan. UNESCO terkenal dengan program warisan dunianya yang bertujuan untuk melestarikan kebudayaan yang tersebar di seluruh dunia.

Perubahan sikap Amerika dan Israel itu mulai terlihat pada 2011, ketika UNESCO mengakui Palestina sebagai anggota tetap. Sebagai bentuk protes, presiden AS yang waktu itu dijabat oleh Barack Obama memutuskan untuk berhenti membayar iuran tahunan kepada organisasi tersebut yang nilainya mencapai 22% dari total seluruh anggaran yang ada. Hal yang sama juga dilakukan oleh Israel, sebagai bentuk protes.

Pada 2016, keadaan semakin memburuk setelah UNESCO mengabaikan hubungan antara Yudaisme dengan Kota Suci Yerussalem, termasuk hanya menuliskan nama arab dan inggris untuk Komplek Haram al-Sharif, serta mengabaikan bahasa Ibrani.

Pada 2017, UNESCO juga menetapkan Kota Tua Hebron, yang terletak di wilayah kependudukan Israel juga sebagai situs budaya Palestina.

Beberapa ahli konservasi Israel menyebut keputusan penarikan diri itu sebagai keputusan yang kurang tepat dan sarat dengan nuansa politis. “Saya tidak berpikir itu sebagai keputusan yang cerdas,” ucap Giora Solar. “Itu adalah keputusan yang politis, dan meski saya kurang sependapat dengan berbagai pemungutan suara di UNESCO, tetapi keputusan yang dipolitisasi seperti ini justru akan merugikan Israel,” tambahnya. (fd/DW)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*