Teheran, LiputanIslam.com — Iran bertekad untuk meningkatkan produksi minyak hingga 4 juta barrel per hari (bph). Pernyataan ini dikeluarkan oleh Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh. Artinya, Iran hanya bersedia bernegosiasi atas rencana pembekuan minyak jika target 4 juta bph telah tercapai.

Seperti diketahui, OPEC dan produsen non-OPEC berencana membekukan produksi minyak, yang saat ini telah melimpah. Langkah ini dipandang perlu untuk meningkatkan kembali harga minyak yang telah jatuh hingga 65% sejak Juni 2014.

Namun Iran menolak seruan untuk membekukan produksi, yang dianggap sangat tidak adil. Melimpahnya pasokan minyak tak lain karena Arab Saudi menggenjot produksi minyaknya secara drastis. Mengapa Iran yang harus ikut bertanggung jawab atas kelebihan pasokan ini?

Baca: Perang Minyak, Upaya Penghancuran Rusia dan Iran

“Kami akan melakukan segala hal untuk mendapatkan kembali pangsa pasar minyak yang hilang akibat embargo. Arab Saudi yang harus disalahkan atas harga minyak yang terjun bebas, dari sekitar $ 100 per barrel menjadi sekitar $ 40 per barrel,” terang Zanganeh.

Harga minyak masih rendah, lanjut Zanganeh, karena Arab Saudi masih memproduksi minyak sebesar 10 juta bph. Sehingga melakukan pembekuan produksi minyak dipandang sebagai tindakan sukarela mengenakan sanksi pada diri sendiri. Bagaimanapun juga, Iran sudah kenyang dikenai sanksi oleh AS dan sekutunya.

“Arab Saudi menderita kerugian besar karena membiarkan produksi minyaknya tetap melimpah. Strategi ini sebetulnya dipakai untuk menekan Iran. Namun mereka kecele, karena Iran mampu bertahan dan mengelola anggaran negara dengan harga minyak $40 per barrel,” tambah dia.

Zanganeh menyebutkan, pasca kesepakatan nuklir Iran, prospek industri minyak Iran semakin menjanjikan. Banyak perusahaan Eropa dan Asia yang tertarik untuk menggarap proyek-proyek di Iran. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL