TelAviv,LiputanIslam.com-Sebuah media Israel memuat laporan tentang kebijakan-kebijakan Saudi yang gagal di kancah regional.

Haaretz menyatakan, kebijakan luar negeri Muhammad bin Salman dihantam dua pukulan telak pada pekan ini. Pertama adalah tewasnya Ali Abdullah Saleh, mantan presiden Yaman, yang telah sepakat berkoalisi dengan Saudi. Kedua adalah Saad Hariri yang telah mencabut pernyataan pengunduran dirinya; pengunduran yang diumumkan karena paksaan Saudi.

Saudi disebut Haaretz tengah bersaing dengan Iran di Yaman dan Lebanon. Namun situasi di kedua negara tersebut cenderung merugikan Riyadh.

Usai menghabiskan milyaran dolar dalam agresi Yaman, Bin Salman menyimpulkan bahwa kemenangan dalam perang tak bisa diraih dengan biaya perang yang besar. Mansur Hadi pun juga tak bisa diandalkan. Sebab itu, akhir-akhir ini dikabarkan bahwa Bin Salman berusaha keluar dari perang Yaman melalui jalur diplomatik.

Menurut Haaretz, Bin Salman meminta agar Abdullah Saleh tidak berkoalisi lagi dengan Houthi. Abdullah Saleh bersedia menerima tawaran ini dengan empat syarat. Syarat-syarat itu adalah:

Pertama, namanya dihapus dari daftar embargo internasional.

Kedua, dia diberi posisi politik di Yaman Baru.

Ketiga, keamanan diri dan keluarganya dijamin.

Keempat, permintaan keuangannya dipenuhi.

Saudi dan UEA dikabarkan menerima empat syarat tersebut, yang juga meliputi agar Saudi melupakan Mansour Hadi. Abdullah Saleh pun diberi lampu hijau untuk memulai ‘revolusinya.’

Haaretz menulis, usai kematian Abdullah Saleh dan kegagalan rencananya, kini Saudi dan UEA tidak lagi memiliki opsi kompeten untuk menjadi presiden Yaman. kelanjutan perang juga akan sangat membebani mereka, baik dari sisi ekonomi atau diplomatik. Menurut Haaretz, kini Saudi dan UEA sadar bahwa untuk menghentikan Iran di Yaman dan Lebanon, mereka tidak bisa mendiktekan segala sesuatu. (af/yjc/haaretz)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL