Teheran,LiputanIslam.comMehmet Şimşek, deputi Perdana Menteri Turki, menyatakan, penyelesaian krisis Suriah tanpa Bashar al-Assad tidak rasional dan logis. Jumat (20/1), dia mengakui bahwa Turki tak akan bersikeras untuk menyingkirkan al-Assad.

Dalam wawancara dengan channel PressTV, Gordon Duff, redaktur The Veterans, Ohio, mengatakan,”Turki sedang menghadapi bahaya internal dan eksternal. Hal ini menyebabkan Ankara mengubah kebijakannya terkait Suriah dan isu-isu regional lainnya.”

Menurut Duff, upaya kudeta militer untuk menggulingkan pemerintahan Turki pada 15 Juli 2016 dan peristiwa-peristiwa setelahnya, serta gelombang aksi teror di negara ini, telah membuka mata Recep Tayyip Erdogan dan kabinetnya.

“Runtuhnya koalisi dengan Israel, Saudi, dan Qatar juga memaksa Erdogan untuk memperbaiki hubungannya dengan Iran, Rusia, dan Suriah,”tambah Duff.

Duff juga menyoroti perubahan sikap Turki di di kancah internasional. Dia mengatakan, Turki berniat mengambil jarak dari NATO, sebab organisasi ini juga telah menjauhi negara ini. Selain itu, dari sisi ekonomi, Eropa adalah sekutu lemah bagi Turki.

Duff menambahkan, Saudi juga bisa saja merubah kebijakannya. Sebab, Saudi tengah dilanda krisis ekonomi dan ada kemungkinan mereka tak lagi didukung Amerika di masa depan.

Amerika dan para sekutunya seperti Turki dan Saudi berusaha keras menggulingkan al-Assad sejak 2011. Oleh karena itu, mereka menyokong para teroris di negara ini. Namun, akhir-akhir ini, Ankara telah mengubah sikap terhadap sekutu-sekutunya ini. Turki menjadi penengah untuk perundingan damai Suriah yang akan diadakan di Astana, Kazakhstan, tanggal 23 Januari 2017. (af/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL