Saudi ISISRiyadh, LiputanIslam.com — Putra dari Syaikh Nimr Baqr Al Nimr menyebut bahwa rezim Al Saud dan kelompok teroris takfiri Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) cabang yang tumbuh pada pohon yang sama.

“ISIS dan rezim Al Saud melakukan hal yang sama. Mereka juga mengikuti ideologi yang sama,” ujar Mohammed Al Nimr, dalam wawancaranya denganCNN, yang dikutip Presstv (27/11/2015).

“Di Saudi, ‘cabang pohon’ tersebut dipangkas karena mereka memiliki uang sehingga terlihat rapi. Mereka memiliki citra yang lebih baik. Namun jika Anda membandingkannya dengan ISIS, pada hakekatnya mereka sama.”

Ideologi ISIS berakar pada Wahabisme yang disebar-luaskan oleh ulama-ulama Saudi, dan menjadi paham resmi yang diadopsi rezim penguasa.

Ia juga mengecam penguasa Riyadh yang mengambil keuntungan dengan menggunakan isu-isu agama. “Ini bukan tentang Sunni ataupun Syiah. Ini tentang tirani,” jelas dia.

Seperti diketahui, Syaikh Nimr dieksekusi oleh rezim Saudi pada tanggal 2 Januari 2015, yang memicu kemarahan dan kecaman dari seluruh dunia. Ia dieksekusi dengan tuduhan melakukan terorisme, padahal yang dilakukannya adalah melakukan protes damai.

“Kami sangat bangga padanya, dan kami tidak akan terintimidasi atau berhenti menuntut kebebasan. Ayah saya bangkit untuk perdamaian ummat manusia,” ujarnya.

“Ayah tahu mereka akan membunuhnya. Dia teguh, dan tidak akan mengubah pernyataannya; ia tidak akan mengamini mereka bahkan walau diancam dengan kematian. Ia tidak takut.”

Dalam wawancara itu, Mohammed al-Nimr juga menyatakan bahwa ia dan keluarganya dicegah untuk melakukan ibadah di kota suci Mekkah.

“Jika kami bepergian ke luar Provinsi Timur, kami merasa khawatir. Kami diperlakukan seperti penjahat. Kami kafir menurut mereka.”

Di Provinsi Timur, Syaikh Nimr terus berusaha memperjuangkan hak-haknya agar mendapatkan perlakuan yang sama untuk mazhab Syiah, juga untuk agama minoritas lainnya di Kerajaan.

Dan telah berlalu sekian minggu sejak eksekusi, namun hingga hari ini jenazah Syaikh Nimr belum juga dikembalikan kepada keluarganya. “Kami tidak tahu apa yang terjadi pada ayah saya karena mereka tidak pernah mengembalikan jasadnya,” tutur Mohammed.

Selama ini Mohammed jarang berbicara secara terbuka. Tetapi kini ia merasa berkewajiban untuk menyampaikan pesan-pesan ayahnya.

“Saya ingin kaum Muslimin mendengar pesan dari ayah. Ia berkata bahwa Anda tidak akan dapat memenangkan dunia dengan kekerasan. Kata-kata menderu jauh lebih tajam daripada suara peluru,” tutupnya.  (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL