Teheran,LiputanIslam.com-Pada Senin pagi 25 Februari 2019,Teheran dikunjungi oleh seorang tamu spesial. Tamu spesial ini diantar sebuah mobil dari bandara Mehrabad menuju sebuah tempat di pusat kota Teheran.

Mobil hitam itu sampai di tempat pertemuan pemimpin tertinggi Iran sekitar pukul 9 pagi. Tanpa melalui protokol dan formalitas yang lazimnya dilakukan, mobil tersebut memasuki gedung.

Para tamu undangan yang dikabari hanya beberapa jam sebelumnya, tahu bahwa Republik Islam Iran dikunjungi seorang pemimpin Poros Muqawamah. Namun sedikit dari mereka yang bisa menebak namanya. Beberapa saat kemudian, Bashar Assad turun dari mobil diikuti oleh komandan Brigade al-Qods IRGC, Qassem Solaemani.

Assad meninggalkan Suriah dengan sebuah pesawat Iran dengan cara yang sangat rahasia. Kunjungan presiden Suriah ke Teheran telah diagendakan sejak beberapa waktu sebelumnya. Namun hari dan jamnya dipendam rapat-rapat. Barangkali orang yang tahu persis kapan Assad akan melawat ke Teheran bisa dihitung dengan jari satu tangan.

Apa alasannya? Apakah nyawa Assad tidak bisa dilindungi di Teheran, atau adakah masalah lain?

Selama 8 tahun terakhir, Assad sangat jarang keluar dari Damaskus. Penyebab utamanya adalah ancaman berkesinambungan dari kelompok takfiri, dan khususnya Israel, untuk menghabisinya. Sangat besar kemungkinan bahwa nyawa Assad terancam dalam bahaya jika lawatan ini sampai terbongkar.

Di masa lalu, ada sejumlah tokoh yang diteror musuh di tengah perjalanan menuju Iran. Yang paling terkenal adalah Muhammad bin Yahya (menlu Aljazair saat itu). Di awal- awal perang Iran-Irak, dia menuju Teheran untuk menjadi penengah. Namun pasukan Saddam menembak jatuh pesawatnya di titik perbatasan Iran.

Andai kabar kunjungan Assad bocor, Rezim Zionis bisa saja mewujudkan impian untuk membunuhnya. Meski Iran saat ini sanggup menjamin keamanan udara di titik-titik yang jauh dari perbatasan geografisnya, namun tetap saja ada risiko besar dalam hal ini. Kunjungan rahasia presiden Suriah ke Iran menunjukkan kesuksesan sektor militer-keamanan dalam memendam informasi serapat mungkin.

Usai pertemuan hangat dengan Ayatullah Khamenei, Assad langsung menuju kantor presiden Iran. Sehari sebelumnya, Hassan Rouhani telah dikabari ihwal lawatan tersebut.

Meski demikian, Rouhani memilih untuk tidak memberitahukan info ini hingga beberapa jam sebelum tibanya Assad. Sebab itu, bendera Suriah tidak dipasang dalam pertemuan kedua kepala negara. Hal serupa juga terjadi saat Assad menemui Vladimir Putin di Moskow. Bendera Suriah tidak dipasang lantaran pertemuan itu “tidak lazim” dan tidak mengikuti formalitas.

Kepala kantor kepresidenan Iran pergi ke luar gedung dan menanti kedatangan tamu spesial di gerbang yang tidak lazim. Dia sendiri tidak tahu siapa tamu yang akan datang memasuki gedung dengan berjalan kaki.

Begitu dikabari Assad telah tiba, Rouhani segera keluar dari kantornya dan menyambut koleganya dengan hangat. Delegasi pengiring Assad juga sangat terbatas; tak ada menlu Suriah, juga dubesnya di Teheran.

Usai berada di Teheran sekitar 4 jam, Assad lalu pergi ke bandara bersama Soleimani dan pulang ke Damaskus bersama komandan ternama al-Qods tersebut. Sebelum Assad dipastikan tiba dengan selamat di kediamannya di Damaskus, juru kamera dan foto ‘dikarantina’ agar tidak memublikasikan kabar ini. Begitu Soleimani memberi izin, awak media segera menyiarkan berita ini secara terbatas, untuk kemudian dipublikasikan secara luas.

Berikut adalah deskripsi Rai al-Youm terhadap lawatan Assad:

“Penyambutan Iran kepada Bashar Assad dan senyum-senyum hangat yang terekam kamera, bukanlah sebuah adegan luar biasa atau ilustrasi politik yang aneh. Sebab, apa yang mengikat Iran dan Suriah jauh lebih dalam dari sekedar hubungan dua tetangga dekat. Yang dibicarakan di sini adalah kekuatan hubungan koalisi strategis antara Damaskus dan Teheran yang terjalin lantaran perang di Suriah, sehingga kedua belah pihak memiliki penafsiran seragam terhadap apa yang terjadi di Suriah selama 8 tahun terakhir.

“Sekarang harus dikatakan bahwa kunjungan ini bukan hanya untuk mengirim pesan politis kepada para musuh, tapi juga dilakukan demi mengkaji tahap-tahap mendatang, tantangan, kendala, dan solusi-solusinya. Ini adalah sebuah kemenangan strategis lain untuk Poros Resistansi.” (af/alalam/sobhenou)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*