Islamabad,LiputanIslam.com-Perdana menteri baru Pakistan dalam wawancara dengan stasiun televisi lokal menegaskan, Islamabad tidak akan mengikuti kebijakan Washington dalam masalah perang.

“Pakistan adalah sekutu AS dalam perdamaian, bukan dalam perang. Sudah waktunya bagi AS untuk memandang Pakistan sebagai kawan, bukan bawahan, sebab Washington membutuhkan persekutuan demi perdamaian dan keluar dari Afghanistan,”kata Imran Khan, seperti dikutip oleh al-Jazeera.

Dia mengatakan, 50 ribu warga Pakistan dan negaranya terseret menuju radikalisme. Imran Khan berkata bahwa Pakistan saat ini lebih tidak aman daripada sebelumnya.

“Pakistan menderita kerugian sebesar 80 milyar dolar dalam perang Afghanistan, sementara kerugian AS mencapai 20 milyr dolar,”lanjutnya.

“Negara saat ini dalam kondisi miskin, lemah, dan tidak aman. Semua pihak di Pakistan sepakat bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis Afghanistan. Sebab itu, kami akan berupaya untuk memperoleh jalan keluar politik.”

Imran Khan telah mengucapkan sumpah sebagai perdana menteri ke-22 Pakistan pada Sabtu (18/8).

Menurut al-Jazeera, Imran Khan tengah berusaha memulihkan nama Pakistan di kancah internasional terkait sejumlah isu. Di antaranya adalah krisis dengan Afghanistan, hubungan dengan India, dialog dengan AS, dan kerjasama ekonomi dengan China.

Sejumlah analis berpendapat, Imran Khan dalam posisi bagus untuk mendapatkan kembali kepercayaan rakyat Afghanistan. Dia dipandang sebagai figur yang ucapannya bisa dipercaya. (af/alalam/fars)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*