Djibouti,LiputanIslam.com—Para pengungsi Yaman tengah berjuang menunggu perang berakhir di bawah teriknya matahari Djibouti dan berharap segera kembali pulang. Seperti umat Muslim lainnya, Ahmed Quraini bangun di kala Fajr untuk melaksanakan Shalat Subuh. Beberapa tahun terakhir, Ia selalu mengawali hari-harinya dengan harapan.Matanya melebar menatap setiap baris ayat-ayat suci yang menggema melalui speaker. Ia pun berdiri terhuyung-huyung, menyisir rambutnya dan berhadapan dengan lapisan debu tebal yang menumpuk di celah-celah lubang tenda pengungsian kumuh itu.

Ia bersihkan kepulan debu itu secara perlahan dan hati-hati, khawatir gerak-geriknya dapat membangunkan anak-anaknya yang tengah tertidur pulas disampingnya. Setelah itu, matanya mencari sandal jepit dan akhirnya keluar menuju toilet yang terletak di ujung kamp pengungsi.

“Insyaallah, hari ini akan ada makanan lebih,” harapnya. “Insyaallah, cuaca akan menjadi dingin. Insyaallah, perang akan segera berakhir,” tambahnya, sembari menuju ke masjid usai mengambil wudhu dengan air hangat dan sedikit keruh.

Hanya keimananlah yang membuat Quraini dan lebih dari 1.400 pengungsi Yaman lainnya tetap bertahan di kamp pengungsi yang hanya berjarak 32 km dari lokasi pertempuran Yaman. Tetapi, setelah tiga tahun lamanya berdoa dan memohon, Quraini mengaku bahwa keimanannya semakin memudar. Mungkin ia merasa doa dan harapan-harapannya tak kunjung terkabul.

“Saya berterimakasih pada Djibouti karena telah menerima kami, tetapi mengapa negara-negara Arab justru abai terhadap kami? Pertama, mereka hujani negara kami dengan bom, kemudian mereka menolak untuk memberikan kami bantuan dalam bentuk apapun. Kami telah diterlantarkan oleh saudara-saudara kami.”

Quraini masih ingat betul masa-masa ketika ia bersama istri dan delapan anaknya menghindari letusan peluru para penembak jitu, serangan udara, dan berbagai bentuk penembakan saat mereka mencoba kabur dari pembantaian yang tengah berlangsung di Yaman pada April 2015 lalu. Saat pertempuran mulai menghancurkan Kota Bab al-Mandeb-Provinsi Taiz, lebih dari 100.000 orang memilih untuk pergi dari kota kelahiran mereka itu. Mereka pun pergi ke beberapa negara, salah satu tujuannya adalah Djibouti.

37.000 orang lebih terapksa harus melewati jalanan Bab al-Mandeb yang dikenal dengan sebutan Gerbang Air Mata, sebuah nama turun temurun yang diperkenalkan oleh leluhur mereka lantaran banyaknya para pelintas yang mati ketika melewati wilayah tersebut.

Saat meninggalkan kota kelahirannya, Quraini hanya membawa beberapa pakaian, selimut, serta beberapa wajan dan panci. Sebab ia yakin akam kembali ke rumahnya dalam waktu dekat.

Saat itu, Arab Saudi memperingatkan bahwa kelompok Houthi telah mengambil alih Yaman dari tangan pemerintah yang waktu itu dipimpin oleh Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi, rekan dekat Arab Saudi.

Arab Saudi yakin bisa memberantas para pejuang Houthi dan para pasukan yang lolay terhadap mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. Karena itu, ia pun menurunkan koalisi militer beberapa negara Arab untuk menjalankan kampanye militer di Yaman. Tetapi, mimpi Arab Saudi masih dari dari kenyataan. Setelah tiga tahun berselang, Quraini dan para pengungsi Yaman lainnya masih saja terpaksa tinggal di kamp yang kering, berdebu, dan sepi itu. Euforia keluarga Quraini perlahan-lahan mulai memudar. Inilah tragedi yang ditimbulkan oleh konflik yang pecah di Yaman.

Sambil berdiri di bawah teriknya panas matahari Djibouti, Quraini mengatakan bahwa banyak orang di kamp ini tengah berjuang untuk melewati hari demi hari.

“Saya selalu marah, depresi, dan setres,” ucapnya. Nada suaranya menunjukkan tanda-tanda orang yang putus asa.

“Saya melihat wajah anak-anak dan tau bahwa mereka telah kehilangan masa depan mereka karena kami sekarang hidup di sini.”

“Di sini tidak ada pekerjaan, universitas, dan harapan apapun. Jika bisa, saya ingin kembali ke Yaman hari ini juga, meski harus menghadapi segala bentuk penindasan dan penganiayaan. Itu lebih baik dair pada harus menhabiskan waktu satu menit di kamp ini.”

Kamp yang ditinggali oleh Quraini dan para pengungsi Yaman di Djibouti ini memang terkenal dengan kisah kesengsaraan dan keputusasaannya. Sebab, daerah ini adalah pusat gurun Djibouti.

Saat musim panas tiba, suhu udara bisa lebih dari 50 C dan longlongan srigala dan hyena yang kelaparan menjadi teror lain untuk anak-anak.

Mereka yang tinggal di kamp ini berasal dari desa-desa miskin dan perkotaan kumuh di Taiz. Di sinilah mereka menyaksikan pertempuran terparah antara kelompok Houthi melawan aliansi militer Arab Saudi. Quraini adalah pengungsi gelombang pertama yang tiba di kamp pengungsi Djibouti, dan seperti yang diharapkan oleh para pengungsi lainnya, mereka ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Saya kehilangan anggota keluarga, teman, dan tempat tinggal,” ucap pria berusia 43 tahun yang dulunya berprofesi sebagai pedagang itu.

“Dan sekarang PBB telah mencuci tangannya dengan darah kami. Putriku yang berusia tiga tahun tidak bisa melihat dan tak satu orang pun yang perduli. Saya telah membawanya ke beberapa dokter dan sebuah rumah sakit di Ibu Kota, tetapi semua orang berkata bahwa mereka tidak bisa menanganinya.

“Hal semacam ini tidak akan menimpa kita jika berada di Yaman.” Ucapnya. (Diterjemahkan dari tulisan Faisal Edroos, fd/al-Jazeera)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL