London,LiputanIslam.com-Tertidurnya sejumlah pemimpin Arab, di antaranya mantan presiden Yaman dan ketua PLO di KTT Liga Arab di Yordania, memicu kritikan luas dari berbagai pihak.

Abdel Bari Atwan, jurnalis senior Palestina yang bermukim di London, sekaligus redaktur Rai al-Youm, menulis catatan terkait masalah ini.

“Tidur lelapnya tiga pemimpin Arab saat KTT Liga Arab di al-Bahr al-Mayyit telah menarik perhatian semua pihak. Apalagi dua orang dari mereka, yaitu Abd Rabbuh Mansur Hadi (mantan presiden Yaman) dan Mahmoud Abbas (ketua PLO), adalah pihak-pihak yang terlibat langsung dengan topik utama KTT tersebut. Mereka berdua membutuhkan dukungan lebih dari pemimpin-pemimpin Arab lainnya.

“Tak perlu dibahas bahwa pidato mayoritas pemimpin Arab di KTT itu kering, ulangan, menjemukan, dan mendatangkan kantuk. Namun, sedikit bersabar beberapa jam dalam dua pertemuan KTT, juga menahan kantuk dan menghindari tidur lelap, semestinya bukan hal yang terlalu sulit.

“Kita tidak tahu apakah penyiaran adegan tidurnya mereka ini disengaja atau tidak. Apa pun sebabnya, para  kamerawan dan sutradara yang telah merefleksikan realitas ini, layak mendapatkan piala Oscar. Alasannya adalah inovasi mereka dalam mendokumentasikan rendahnya para pemimpin Arab, Liga Arab, dan secara umum, kegagalan upaya bersama negara-negara Arab.

“Bisa dipastikan bahwa dalam KTT berikutnya tahun depan, salah satu banner paling mencolok yang akan dipasang adalah ‘mohon jangan tidur!’ Bahkan tidak mengherankan jika para peserta KTT, terutama yang telah berumur, yang merupakan mayoritas peserta, diberi obat antikantuk.

“Organisasi-organisasi resmi negara-negara Arab telah menua dan melemah. Kini mereka berada dalam situasi kritis. Jika saat ini mereka belum jatuh, setidaknya itu akan terjadi dalam waktu dekat. Apa yang terjadi di pertemuan al-Bahr al-Mayyit adalah bukti akan hal ini.

“Kita tidak menyalahkan para pemimpin Arab yang enggan menghadiri pertemuan ini, atau mereka yang tidak bersedia menjadi tuan rumah KTT. Pertemuan-pertemuan negara-negara Arab telah kehilangan nilai dan urgensinya serta hanya menghambur-hamburkan waktu dan uang. Dana yang dianggarkan untuk pertemuan-pertemuan semacam ini, adalah hak kaum miskin dan kelaparan yang berjumlah banyak di negara-negara kita.”(af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL