Gaza,LiputanIslam.comReuters melaporkan, sebagian besar bagian Gaza diselimuti kegelapan di malam hari. Hanya lampu-lampu mobil yang menerangi jalanan di kota ini. Sudah beberapa lama Gaza berkutat dengan masalah terputusnya aliran listrik.

Kurangnya pasokan listrik telah mencapai batas tertinggi selama satu dekade terakhir. Di beberapa pekan lalu, tiap hari Gaza hanya menikmati listrik selama 3 hingga 4 jam. Artinya, di pertengahan musim dingin ini, Gaza berubah menjadi tempat yang dingin dan gelap.

Pekan ini, Qatar-salah satu sekutu Hamas-menyiapkan dana pembelian bahan bakar bagi satu-satunya pembangkit listrik Gaza. Diharapkan bahwa bantuan ini bisa menambah pasokan listrik selama 8 jam dalam dua sesi sepanjang siang dan malam.

Namun, tetap saja bantuan ini tidak mampu menyelesaikan akar permasalahan. Minimal, Gaza sudah selama satu dekade bergulat dengan problem kekurangan listrik. Sebab, Gaza butuh 400-450 megawatt listrik untuk mengatasi masalah ini. 120 megawatt listrik yang dibutuhkan Gaza berasal dari kawasan yang diduduki Zionis, sementara 30 megawatt dikirim dari Mesir.

Satu-satunya pembangkit listrik Gaza hanya mampu memproduksi 50 megawatt. Berarti, dengan ditambah pasokan dari Tanah Pendudukan dan Mesir, hanya separuh kebutuhan listrik Gaza yang terpenuhi. Bertambahnya konsumsi listrik di musim dingin dan infrastruktur ringkih di Gaza menyebabkan aliran listrik sering terputus.

Hamas bisa menyediakan bahan bakar dua motor baling-baling untuk pembangkit listrik Gaza. Dengan bantuan dari Qatar, Hamas bisa mengaktifkan tiga motor. Meski demikian, tiap harinya, warga Gaza minimal tidak mendapat pasokan listrik selama 8 jam (kebanyakan di sore hari). Situasi ini menyebabkan mereka sulit mencuci, mandi, memasak, dan belajar. Biasanya mereka terpaksa melakukan semua aktifitas ini di malam hari dan ketika listrik menyala.

Menjaga tempat tinggal tetap hangat adalah problem terbesar warga Gaza, khususnya bagi mereka yang menetap di apartemen. Opsi-opsi lain seperti baterai dan penyerap sinar matahari, yang biasa digunakan kaum hartawan, juga tak mampu memenuhi listrik yang dibutuhkan alat penghangat ruangan. Sebab itu, warga terpaksa beralih ke opsi lain yang lebih primitif dan berbahaya, seperti membakar arang atau minyak dalam rumah-rumah mereka. (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL