Washington,LiputanIslam.com-Upaya pemerintahan AS untuk menekan Iran, politisi, dan pasukan sekutu Teheran di Irak kian mengeruhkan hubungan Washington-Baghdad, juga memicu konfik internal di pemerintahan Donald Trump.

Dalam laporan yang diturunkan New York Times, Selasa (19/3), dikabarkan bahwa para pejabat militer dan intelijen AS berpendapat, bertambahnya tekanan atas Irak bisa saja menyulut amarah parlemen dan kelompok politik di negara tersebut. Selain itu, tekanan atas Baghdad juga berpotensi membahayakan proses pemindahan 5200 serdadu AS di Irak.

Berdasarkan laporan ini, Mike Pompeo (menlu AS) tengah berupaya memaksa Baghdad untuk menekan Teheran. Dia melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada Selasa (19/3) untuk berdialog dengan petinggi Kuwait, Israel, dan Lebanon.

Sejauh ini, upaya Pompeo di Eropa untuk membuat Iran dimusuhi, justru mengeruhkan hubungan AS dengan para sekutunya di Benua Biru.

Salah satu proposal Pompeo dan sejumlah pejabat Gedung Putih adalah mencantumkan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam daftar “teroris asing.”

Menurut New York Times, jika proposal ini dilaksanakan, ini adalah kali pertama AS memperkenalkan salah satu sektor militer pemerintahan di negara lain sebagai “organisasi teroris.”

Di pihak lain, sejumlah pejabat AS berkeyakinan, proposal ini bisa saja membuat tentara dan agen intelijen AS diperlakukan serupa oleh negara-negara lain, yaitu dicap sebagai teroris.

Rencana Pompeo untuk mencantumkan IRGC dan sejumlah kelompok militer Irak dalam daftar teroris, mendapat penentangan dari Pentagon dan CIA.

Beberapa pekan lalu, berlawanan dengan saran Pentagon, kemenlu AS menyebut kelompok al-Nujaba Irak dan pemimpinnya sebagai teroris.

Kini Pompeo juga berupaya mencantumkan Ashaib Ahl al-Haq dalam daftar hitam. Dalam pemilu Irak tahun lalu, kelompok ini meraih 15 kursi di parlemen negara tersebut. (af/alalam/fars)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*