uangAbu Dhabi, LiputanIslam.com — Uni Emirat Arab dilaporkan diam-diam telah mengirim ratusan tentara bayaran asal Kolombia untuk berperang di Yaman. Proyek ini didesain oleh organisasi rahasia yang terkait dengan Erik Prince pendiri Blackwater Worlwide.

Sebelumn ini dikabarkan, masuknya 450 tentara dari Amerika Latin ke Yaman, sebagian dari mereka berkebangsaan Panama, Salvador dan Chili, dilaporkan telah menambah kerunyaman konflik di Yaman.

Seperti diketahui, pada Maret lalu Arab Saudi dan koalisinya, termasuk Amerika Serikat (AS), telah menggempur Yaman dengan klaim memerangi kelompok revolusioner Ansarullah.

Negara-negara Arab yang kaya seperti Arab Saudi dan Qatar, dalam beberapa tahun ini menganut strategi militer yang agresif di kawasan Timur Tengah. Negara-negara ini terlibat dalam perang yang terjadi di Suriah, Irak dan juga Yaman. Ketika rezimnya begitu gemar berperang, di saat yang sama, penduduk setempat tidak memiliki minat yang sama dan cenderung enggan bergabung dengan kemiliteran.

“Tentara bayaran adalah pilihan yang menarik bagi rezim yang gemar berperang, namun memiliki warga negara yang tak ingin berperang,” ujar Sean McFate, penulis ‘The Modern Mercenary’, seperti dilansir Nytimes, (25/11/2015).

“Saat ini industri militer swasta telah bersifat global, dan AS telah melegitimasi hal ini mengingat AS telah banyak kehilangan tentaranya di Irak dan Afghanistan. Tentara bayaran asal Amerika Latin ini merupakan isyarat terhadap sesuatu yang terjadi di masa depan,” tambahnya.

Tentara bayaran asal Kolumbia ini, dipilih dari sekitar 1.800 tentara bayaran yang dilatih di sebuah pangkalan militer UEA. Yang belum terpilih, masih berada di pangkalan militer dan sedang dilatih untuk mengoperasikan granat dan kendaraan lapis baja.

Tentara bayaran asal Kolumbia ini dianggap telah teruji dalam perang gerilya, dan telah berpengalaman melawan Angkatan Bersenjata Kolumbia.

Disebutkan, bahwa tentara bayaran ini bergabung dengan pasukan bayaran asal Sudan dan Arab Saudi yang tengah memerangi Ansarullah.

Hal ini disayangkan sekali, mengingat di Palestina sendiri tengah bergejolak dan memicu Intifada III, namun tak ada negara-negara Arab yang tergerak membantu Palestina melawan kekejaman Israel. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL