Beirut,LiputanIslam.com-Redaktur Rai al-Youm menulis kolom tentang pengunduran diri Saad Hariri dari jabatan perdana menteri Lebanon. Menurut Abdel Bari Atwan, Hariri mengundurkan diri bukan karena dia takut dibunuh, sebab sebelum ini, dia mondar mandir di Beirut seperti biasanya.

“Selain itu, pihak yang kemungkinan besar akan menerornya, yaitu Hizbullah, justru melindungi Hariri. Bahkan, dia menjadi perdana menteri atas kesepakatan dengan kelompok perlawanan ini,”tulis Atwan.

Pengunduran diri Hariri, tulis Atwan, adalah sebuah plot Saudi-Amerika yang menargetkan Hizbullah; kelompok yang merupakan ancaman utama bagi Israel dan bahaya besar bagi Saudi. Ini disebabkan dukungan media dan politis Hizbullah terhadap Ansharullah Yaman yang mempertahankan negeri itu dari agresi Saudi.

Atwan menyatakan, tuduhan Hariri atas Iran dalam surat pengunduran dirinya adalah kelanjutan dari serangan verbal Tsamir al-Sabhan (menteri konsultan Saudi dalam urusan Teluk Persia). Sebelum ini, al-Sabhan menyebut Hizbullah sebagai ‘partai setan’ dan menghujat Sayyid Hasan Nasrullah dengan cara tidak etis dari sisi tata krama diplomatik dan politik.

“Pernyataan perang atas Hizbullah hanya bisa terjadi dengan koordinasi Israel, sebab Saudi tidak akan mampu bertempur dalam satu waktu di dua medan perang (Yaman dan Lebanon/Iran). Selain itu, Saudi dan Lebanon tidak memiliki garis perbatasan geografis. Para sekutu Saudi pun tak akan sanggup mengalahkan Hizbullah; kelompok yang memiliki pengalaman dan perangkat militer yang hanya dimiliki 4 negara di kawasan, yaitu UEA, Mesir, Suriah, dan Saudi,”lanjut Atwan.

“Genderang perang telah ditabuh dari Saudi, dan gemanya terdengar ke seluruh kawasan. Pengunduran diri Hariri adalah salah satunya. Pertanyaannya adalah: kapan bunga api perang pertama terpercik? Lebanon yang mampu bertahan selama dua tahun tanpa presiden, pasti juga bisa bertahan tanpa perdana menteri. Pihak lawan menyadari hal ini dan mungkin akan bergerak cepat. Pertama-tama mereka akan berusaha melumpuhkan ekonomi Lebanon dan memblokadenya seperti yang dilakukan atas Yaman.”

“Ini adalah perjudian Saudi-Amerika yang akhirnya tidak diketahui. Keterlibatan Israel dalam perang ini akan membebankan biaya besar atas mereka. Bisa jadi ini adalah perang terakhir di kawasan. Saya tidak yakin Israel yang selalu ‘kalah’ dalam perang-perangnya sejak 1973 akan keluar sebagai ‘pemenang’ dalam perang ini. Poros perlawanan telah bersiap untuk perang ini. Kekuatan Hizbullah juga telah berlipat ganda dibandingkan tahun 2006. Selain itu, Iran, Suriah, Irak, dan ribuan relawan dari berbagai negara juga akan terlibat. Juga jangan lupakan Hamas yang telah menormalisasi hubungannya dengan Iran dan Sayyid Hasan Nasrullah,”pungkas Atwan. (af/alalam/fars)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL