car ban ki-moonBangui, LiputanIslam.com – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menyerukan kepada para pemimpin di Republik Afrika Tengah (CAR) serta khalayak dunia supaya mencegah kemungkinan terjadinya genosida seperti yang pernah terjadi di Rwanda 20 tahun silam.

Dalam kunjungannya ke ibu kota CAR, Bangui, Sabtu (5/4) Ban mengatakan, para pemegang kewenangan di negara ini harus mencegah terulangnya kembali kekejaman yang telah menewaskan 800,000 penduduk di Rwanda pada tahun 1994. Dalam kunjungan itu dia sempat meninjau kondisi pengungsi Muslim yang ditampung di sebuah masjid yang rusak akibat konflik di Bangui yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Mengenai peningkatan aksi “pembersihan etnik-agama” di CAR, dia mengatakan, “Sebagian besar anggota minoritas Muslim telah meninggalkan rumah mereka.” Dia menambahkan, “Jangan ulangi kesalahan di masa lalu, jadikan hal itu sebagai pelajaran. Nasib negara kalian ada di tangan kalian sendiri.”

Ban Ki-Moon juga mengingatkan para anggota dewan transisi dan Presiden Interim CAR Catherine Samba-Panza bahwa masyarakat internasional dewasa ini sedang berhadapan dengan “resiko ketidak cakapan dalam berbuat untuk rakyat CAR”. Dewan transisi ini telah ditugaskan untuk menyiapkan penyelenggaraan pemilu pada Februari 2015.

Lebih lanjut, Ban menegaskan kembali seruannya kepada Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa-Afrika awal pekan ini bahwa masyarakat internasional telah menyediakan dana dan pasukan untuk pengiriman pasukan baru PBB sebanyak 12,000 personil.

Seperti diketahui, CAR dilanda bentrok dan kerusuhan hebat sejak akhir 2012, yaitu setelah pejuang Muslim Saleka bangkit dan berhasil menggulingkan Presiden Kristen Francois Bozize pada Maret 2013.

Usai meninjau kondisi kota Bingui, Sekjen PBB bertolak menuju Rwanda untuk menghadiri peringatan tragedi genosida yang pernah terjadi di negara ini setelah pesawat terbang yang membawa Presiden Rwanda  Juvenal Habyarimana tertembak jatuh pada tahun 1994. Aksi kejam saat itu berlangsung sekitar 100 hari dan karena itu tragedi tersebut belakangan dikenal dengan “100 Hari Jahannam”. (mm/persstv/dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL