Rohingya refugeesYangon, LiputanIslam.com – Pekerja bantuan internasional di Myanmar menyatakan kondisi warga Muslim Myanmar di kamp pengungsian negara bagian Rakhine, Myanmar, masih sangat memprihatinkan dan membutuhkan bantuan bahan makanan dan kesehatan.

Para relewan dari Dokter Lintas Batas (MSF) Rabu (23/4/2014) menyatakan sedikitnya empat warga Rohingya meninggal dunia dan 31 bayi berada dalam kondisi kesehatan yang buruk sejak awal tahun ini. MSF menilai kondisi kritis dialami terutama oleh kaum perempuan dan anak kecil.

“Kami pernah membawa seorang ibu hamil ke desa lain yang memiliki dokter di balik sebuah bukit, tapi dia kemudian meninggal dunia,” tutur seorang relawan MSF  kepada sebuah media.

Beberapa waktu lalu seorang ibu hamil Rohingya bernama Hasina Begum, 28 tahun, dilaporkan tewas dibunuh oleh para bidan di sebuah rumah sakit umum di Sittwe, ibu kota Rakhine. Seorang saksi mata yang merupakan saudara sepupu korban mengatakan korban meninggal dunia sekitar tiga menit setelah diberi suntikan dan diproses oleh dua orang bidan.

Menurut keterangan saksi, korban sempat ditanya-tanya dengan nada penuh kebencian oleh dua bidan tersebut. Pembunuhan bidan terhadap pasien ibu hamil etnis Rohingya ini tak urung menggambarkan betapa besarnya sentimen dan kebencian ekstrimis Buddha terhadap warga Muslim Rohingya di Myanmar.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa ratusan ribu warga Muslim Rohingya terdera oleh krisis bahan makan dan air bersih. Pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara bagian Rakhine berjalan lamban akibat eskalasi kekerasan bernuansa sektarian.

Sejumlah organisasi bantuan kemanusiaan belum lama ini mengingatkan bahwa kondisi malnutrisi sangatlah kronis di kamp-kamp pengungsian, terutama pada anak-anak kecil. Kondisi ini diperparah oleh terevakuasinya ratusan relawan kemanusiaan internasional dari Sittwe setelah gedung-gedung dan fasilitas milik kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diserang oleh ekstrimis Buddha 27 Maret lalu.

Serangan itu dipicu oleh rumor penodaan bendera Buddha yang tersebar di Sittwe. Ratusan massa berkonsentrasi dan melempari kantor Malteser kemudian menyerang bangunan dan fasilitas kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan dan PBB.

PBB menyerukan kepada pemerintah Myanmar supaya membantu pengembalian relawan kemanusiaan ke Rakhine. Di pihak lain, pemerintah Myanmar menyatakan kelompok-kelompok relawan yang kembali diharuskan melaporkan kegiatan mereka kepada sebuah badan baru yang terdiri dari para pejabat pemerintah lokal dan pusat.

Ratusan Muslim Rohingya tewas dan luka-luka akibat merebaknya kerusuhan sektarian yang terjadi selama beberapa bulan di Myanmar. Selain itu, ribuan orang terpaksa mengungsi. Pemerintah Myanmar mendapat kecaman dari berbagai kelompok peduli hak asasi manusia karena dinilai gagal melindungi warga Muslim Rohingya. PBB juga mendata warga Muslim Rohingya sebagai salah satu komunitas masyarakat yang paling teraniaya di dunia. (mm/presstv/worldbulletin/trf)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL