Washington,LiputanIslam.com-Seorang pejabat pemerintahan Donald Trump menanggapi kabar mundurnya Mesir dari rencana pembentukan “NATO Arab.”

Dalam wawancara dengan VOA (Voice of America), pejabat yang enggan identitasnya dipublikasikan itu mengatakan, “Mesir memiliki peran sangat penting dalam keamanan regional. AS dan semua anggota koalisi strategis Timteng ingin agar Mesir menjadi bagian dari koalisi ini, karena manfaatnya sangat banyak.”

“Seiring dengan terbentuknya koalisi ini, kami meminta agar Mesir tidak melewatkan kesempatan untuk memainkan peran pemimpin (di dalam koalisi),”lanjutnya.

Reuters mendeskripsikan keputusan Mesir sebagai “pukulan telak terhadap strategi pemerintahan Trump untuk membendung Iran.” Kantor berita ini melaporkan, Mesir telah menyampaikan keputusannya ini kepada AS dan para anggota koalisi.

Dengan demikian, Mesir tak akan mengirim delegasi ke pertemuan koalisi yang akan diadakan di Riyadh, Minggu (14/4).

“Mesir mengundurkan diri karena meragukan keseriusan rencana koalisi ini. Kairo juga belum mendapatkan dokumen resmi yang menjabarkan rencana tersebut. Selain itu, rencana ini bisa meningkatkan potensi konflik dengan Iran,”tulis Reuters.

Menurut sebuah sumber Arab, faktor lainnya adalah ketidakyakinan Mesir bahwa Trump akan menang pada pilpres 2020, serta kemungkinan bahwa pengganti Trump akan menyingkirkan ide pembentukan “NATO Arab.”

“Tidak berjalan dengan baik,”kata seorang sumber Saudi, mengomentari proses pembentukan koalisi ini.

Menurut laporan dua sumber yang dikutip Reuters, negara-negara Arab di koalisi itu akan menggunakan tekanan diplomatik guna mengembalikan Mesir ke koalisi. Sumber lain mengklaim, keputusan Mesir untuk mundur belum final, tapi akan sulit untuk meyakinkan Kairo bergabung kembali. (af/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*