Washington,LiputanIslam.com-Berdasarkan data departemen keamanan internal AS, para petugas perbatasan negara ini telah memisahkan dua ribu anak imigran dari orangtua mereka selama enam pekan terakhir. Anak-anak itu dititipkan di kamp-kamp terpisah sebagai bentuk intimidasi terhadap orangtua mereka.

Langkah ini memicu kecaman dari berbagai lembaga HAM terhadap pemerintah AS.

Anak-anak tersebut harus tinggal di kamp-kamp tersebut sampai orangtua mereka mendapatkan kepastian hukum.

Kantor urusan HAM PBB baru-baru ini meminta agar AS mengakhiri kriminalisasi dan pelanggaran hak para imigran yang memasuki AS tanpa izin tersebut. Washington diharapkan mengambil kebijakan yang lebih longgar terhadap mereka.

“Penahanan para pengungsi dan pemisahan para keluarga sebagai langkah pencegahan, bertentangan dengan standar dan prinsip HAM,”kata jubir kantor HAM PBB.

Pemerintahan Donald Trump selalu bersikap keras terhadap para imigran dan pengungsi. Demi menghentikan tren imigrasi, Gedung Putih mengambil sejumlah langkah, termasuk penghapusan kesepakatan soal imigrasi dan pemberlakuan hukum yang lebih ketat.

Salah satu langkah yang diambil adalah penghapusan undang-undang DACA. Undang-undang ini disusun guna melindungi para imigran yang memasuki AS saat masih kecil dan tumbuh dewasa di negara tersebut. (af/alalam/irna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*