Karbala, LiputanIslam.com — Arba’in, yang merupakan peringatan 40 hari kesyahidan Sayyidina Husain di Karbala didaftarkan sebagai warisan budaya non-benda ke UNESCO. Tujuannya adalah untuk melindungi nilai-nilai spiritual Arba’in bagi generasi muda mendatang. Hal ini diungkapkan oleh Masoud Soltanifar, Wakil Presiden Iran, yang saat ini juga menjabat sebagai Kepala Organisasi Warisan Budaya, Kerajinan dan Pariwisata Iran.

“Arba’in adalah salah satu peringatan yang dihadiri oleh jamaah dalam jumlah yang sangat besar. Arba’in juga memiliki nilai sejarah yang tinggi,” tambahnya, seperti dilansir Iranfronpage.com, (1/12/2015).

Setiap tahunnya, jutaan ummat Islam dari berbagai puluhan negara napak tilas dari Najaf hingga Karbala.

Di sepanjang jalan menuju Karbala, penduduk setempat melayani peziarah dengan penuh khidmat. Mereka menyiapkan tenda-tenda untuk beristirahat, mandi atau membersihkan diri, makanan dan minuman, hingga perawatan kesehatan.

Selain ummat Islam, peziarah pada Arba’in juga berasal dari kalangan Kristen, Yazidi, dan Sabian. Tahun lalu, peziarah Arba’in jumlahnya tak kurang dari 20 juta. (Baca: Gempita Peringatan “Arba’in” di Karbala)

Meskipun demikian, peringatan Arba’in tidak pernah menelan korban jiwa sebagaimana yang pernah terjadi pada tragedi Mina pada musim haji lalu, kendati jumlah jamaah haji di Mekkah hanya 2,5 juta saja.

Di lain sisi, Arba’in jauh lebih beresiko, mengingat kondisi Irak tengah tidak stabil. Teroris-teroris menargetkan peziarah dengan melakukan bom bunuh diri. Beberapa waktu yang lalu, teroris juga mencoba untuk memasukkan bom-bom ke dalam boneka-boneka, namun telah berhasil diamankan oleh pasukan keamanan Irak. (Baca: Teroris Selundupkan Bom Dalam Boneka Untuk Serang Peziarah Karbala). (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL