Potret demonstrasi penggunaan THAAD (Sumber: al-Jazeera)

Riyadh, LiputanIslam.com—Beberapa hari lalu, tepatnya pada Kamis (5/10), Arab Saudi melakukan kunjungan besar-besaran ke Rusia, salah satu negara penghasil senjata super canggih di dunia. Kedatangan Raja Saudi ke Rusia ini rupanya turut menyertakan rombongan para anggota kerajaan dan para pengusaha yang jumlahnya mencapai 1.500 orang. Pertemuan politik antara Raja Salman bin Abdul Aziz dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menghasilkan beberapa hal, di antaranya adalah perjanjian pembelian sistem pertahanan udara tercanggih milik Rusia tipe S-400. Tak hanya itu, Arab Saudi juga membeli sistem Kornet-em anti tank dan senapan Kalashnikob AK-1013.

Sebelumnya, Arab Saudi telah mengajukan proposal pembelian sistem pertahanan anti-rudal AS (THAAD) sebanyak 44 unit, sekaligus 360 rudal lengkap dengan radar dan alat pengendalinya. Kantor berita al-Jazeera melaporkan pada Sabtu (7/10) bahwa kemungkinan besar permintaan Arab Saudi itu akan segera dikabulkan dalam tenggang waktu 30 hari ke depan, apabila kongres AS tidak merasa keberatan.

“Penjualan senjata AS kepada Arab Saudi ini merupakan bentuk dukungan atas keamanan di Arab Saudi dan wilayah teluk dari ancaman orang-orang Iran dan yang lainnya,” ucap petugas keamanan pertahanan Pentagon pada Jum’at kemarin (6/10).

THAAD yang akan dijual kepada Arab Saudi ini merupakan THAAD termutakhir yang dikembangkan oleh AS untuk menghalau kemungkinan serangan yang akan dilakukan oleh Korea Utara. Departemen keamanan AS mengklaim bahwa di tangan Arab Saudi, THAAD dapat menstabilkan situasi di wilayah Teluk yang sedang memanas, serta membantu militer AS dan aliansinya yang ada di wilayah tersebut.

Pembantaian Militer Saudi Atas Yaman Terus Berlanjut

Pembelian senjata terbaru secara masif kepada dua negara besar (AS dan Rusia) ini dilakukan saat Arab Saudi tengah melakukan operasi militer besar-besaran terhadap Yaman. Dengan dalih menjaga stabilitas di wilayah Teluk, Arab Saudi justru menggunakan senjata-senjata belian tersebut untuk membantai masyarakat sipil di Yaman.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, melaporkan bahwa operasi koalisi Arab Saudi dan Houthi selama tahun 2016 di Yaman telah menewaskan 11.000 jiwa. Guterres merinci bahwa pada tahun lalu sebanyak 502 anak terbunuh dan 838 lainnya terluka akibat perang di Yaman. Menurutnya, koalisi pimpinan Saudi bertanggungjawab atas tewas dan lukanya 683 anak, sedangkan Houthi bertanggungjawab atas tewas dan lukanya 414 anak. Adapun sisanya adalah tanggungjawab pihak-pihak lain yang juga terlibat dalam perang.

Hingga kini, operasi militer koalisi pimpinan Arab Saudi yang telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur di Yaman terus berlanjut. Rusaknya infrastruktur di Yaman menyebabkan munculnya masalah-masalah baru seperti wabah kolera, minimnya akses kesehatan, pendidikan, serta menurunnya roda perekonomian di Yaman, yang ujung-ujungnya akan menhancurkan Yaman dan rakyatnya secara perlahan. (fd/al-Jazeera)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL