AnswerTeheran, LiputanIslam.com — Eksekusi yang dilakukan terhadap Syaikh Nimr Baqir al Nimr menunjukkan keputus-asaan Arab Saudi dalam upayanya mendestabilisasi Timur Tengah. Arab Saudi jua berupaya menyabotase upaya perdamaian di kawasan.

“Eksekusi ini mencurigakan. Rezim Arab Saudi sepertinya tengah mencari upaya untuk mencapai kepentingan sesaatnya,”kata Brian Becker, koordinator Koalisi ANSWER, sebuah lembaga anti perang dan kemanusiaan yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Menurut dia, rezim renta Saudi khawatir bahwa kesepakatan nuklir Iran dan proses perdamaian untuk menyelesaikan konflik Suriah akan membahayakan posisinya di Timur Tengah.

Baca: Duo AS, Dalang Di Balik Kemelut Timur Tengah

“Mereka sekarang berusaha keras untuk membuat provokasi yang akan mengguncang kawasan, menyabotase kemungkinan mencairnya hubungan AS dengan Iran, juga menyabotase setiap resolusi damai dari perang Suriah,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa pengaruh AS di Arab Saudi telah jauh berkurang.

Pasca eksekusi terhadap Syaikh Nimr, Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Langkah ini lantas diikuti oleh Bahrain dan Sudan. Uni Emirat Arab juga menurunkan level diplomatiknya dengan Iran.

Baca: Sudan Ikuti Jejak Saudi, Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Iran

Namun menurut paka Timur Tengah Dina Y. Sulaeman, pemutusan hubungan diplomatik ini tidak akan memiliki pengaruh pada Iran. Pasalnya, rakyat Iran memiliki nasionalisme yang tinggi dan teruji.

“Nasionalisme rakyat Iran sudah teruji 36 tahun terakhir ini (sejak berdirinya Republik Islam). Diembargo obat-obatan? Bikin sendiri. Diembargo senjata? Bikin sendiri. Diembargo jaringan perbankan Rothschild? Pedagang selalu punya jalan keluar, life goes on. Dikucilkan? Nggak takut. Diperangi? Lawan,” tulis Dina, di akun Facebooknya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL