LiputanIslam.com—Seorang pakar dari Russian Institute of Strategic Studies, Azhdar Kurtov, mengatakan bahwa tak satu pun negara-negara di Asia, bahkan India atau Cina, akan menuruti instruksi AS begitu saja.

Komentar ini disampaikan usai Amerika memberikan sanksi atas perekonomian Iran dengan cara memerintahkan rekan-rekan dan sekutunya untuk menghentikan aktivitas impor minyak dari Iran ke negara mereka.

Menurut Azhdar, baik Cina maupun India, memiliki hubungan yang cukup serius dengan Iran di bidang transportasi dan logistik. “Jika negara-negara Asia itu ikut melibatkan diri dengan aksi anti-Iran itu, maka proyek-proyek kerjasama yang mereka bangun hanya tinggal tulisan kertas saja,” ucapnya, seperti dikutip oleh Sputnik pada Sabtu (30/6).

Selain itu, himbauan AS kepada para sekutunya untuk menghentikan impor minyak dari Iran secara tidak langsung telah memberi peluang untuk AS mengisi kekosongan sekaligus mengontrol pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang, seperti India atau bahkan Cina.

Seorang ahli lainnya, Irina Fyodorova, mengatakan bahwa Cina, seperti halnya India dan Korsel telah mengeyam pengalaman yang cukup saat merespon ajakan AS untuk mengembargo Iran pada masa lalu.

“Dulu, saat AS pernah memberikan himbauan serupa untuk menghukum Iran, pembayaran transaksi minyak tidak dilakukan dengan dolar AS. Mereka kadang menggunakan sistem barter atau uang disimpan di bank-bank Cina dan India. Setelah Iran menandatangani perjanjian nuklir pada 2015, barulah uang tersebut dikembalikan kepada Iran,” ucap Irina.

Irina percaya bahwa Cina dan India tidak akan menghentikan impor minyak dari Iran secara spontan, meski ada kemungkinan kedua negara itu akan menurunkan kuantitas impor tersebut.

Sebelumnya, Amerika telah menyarankan kepada India untuk memtimbangkan kembali hubungan bisnis yang dilakukannya bersama Iran. (fd/Sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*