Washington,LiputanIslam.com-Di tengah meningkatnya intervensi AS di Yaman, sebuah laporan menunjukkan bahwa Pentagon secara diam-diam menginstruksikan pengiriman pasukan khusus ke Timteng dan Afrika Utara.

Menurut laporan ABC News, hal ini menunjukkan bahwa AS berniat melancarkan serangan lebih masih atas target-target yang diklaimnya sebagai tempat-tempat al-Qaeda di Yaman, ISIS di Suriah, dan sejumlah tempat di utara Afrika.

AS telah melakukan serangan darat pertamanya ke Yaman sejak dua tahun lalu pada Januari. Serangan darat ini disusul dengan serangan udara besar-besaran dalam sepekan terakhir.

Pada 29 Januari, pasukan marinir AS menjalankan operasi militer di provinsi al-Bayda dan menyerang sejumlah target yang diklaim berkaitan dengan al-Qaeda. Menurut penduduk lokal, serangan ini menewaskan 25 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Dalam serangan ini, seorang militer AS tewas dan tiga lainnya terluka. Sebuah helikopter milik AS juga jatuh.

Izin serangan ini diberikan langsung oleh Donald Trump sendiri.

Amerika termasuk pendukung utama agresi Saudi ke Yaman. Mereka berdalih bahwa serangan ini dilakukan untuk membasmi al-Qaeda.

Sebuah sumber militer AS berkata kepada ABC News, Trump telah memberikan keleluasaan lebih besar kepada pasukan AS untuk menjalankan operasi semacam ini di luar wilayah AS.

Sejak dimulainya agresi Saudi ke Yaman, kelompok al-Qaeda justru lebih kuat dari saat-saat sebelumnya. Kelompok teroris ini memanfaatkan kekacauan dan tiadanya keamanan di Yaman untuk memperkuat posisinya di wilayah selatan dan tenggara negara ini.

Mark Mitchell, seorang pensiunan militer AS, berkata kepada ABC News,”Operasi antiteroris ditingkatkan untuk menutupi ketidakmampuan Yaman memerangi terorisme dan keterbatasan operasi militer di masa Obama.”

Para pejabat AS mengatakan, mereka akan mengirim pasukan elite dari Delta dan unit khusus AL ke Yaman.

Para pengamat meyakini, pemerintah baru AS akan bertindak hati-hati dalam masalah ini. Alasannya, serangan darat di bulan lalu telah memicu kritik di Washington dan menjadi senjata politik bagi rival.

Gedung Putih menyatakan, serangan ini adalah sebuah “kemenangan.” Namun para penentang Trump menganggapnya sebagai operasi gagal yang menyebabkan tewasnya warga sipil.

Trump selalu berupaya menekankan bahwa operasi-operasi militer ini telah dirancang jauh sebelum dia berkuasa. Dengan cara ini, dia berusaha cuci tangan dari dampak-dampak negatif operasi-operasi ini. (af/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL