stephen kinzerWashington, LiputanIslam.com – Penulis, jurnalis dan akademikus Amerika Serikat (AS) Stephen Kinzer meminta pemerintah negara ini supaya tidak memihak kepada Arab Saudi ataupun Iran di tengah ketegangan antara keduanya pasca hukuman mati otoritas Saudi terhadap ulama Syiah negara ini, Syeikh Nimr Baqir al-Nimr. Namun demikian, lanjutnya, seandainya AS harus memihak, maka memihak kepada Iran akan lebih rasional.

“AS  harus melakukan segala sesuatu yang memungkinkan untuk menghindari keberpihakan di tengah intensitas perang proksi antarkekuatan dominan Syiah dan Sunni di Timteng. Meskipun sejarah mengatakan bahwa kita harus condong ke Arab Saudi, sekutu lama kita, namun jika kita melihat masa depan maka Iranlah mitra yang lebih logis. Alasannya sederhana; interes keamanan Iran lebih dekat dengan kita daripada Arab Saudi,” ungkap Kinzer dalam artikelnya di portal Politico, Senin (4/1/2016)

Menurut Kinzer, berpihak kepada Saudi bahkan akan menjadi “bencana”. Saudi memang hebat dari segi persenjataan karena banyak menghabiskan dana untuk belanja sistem tempur tercanggih di dunia yang sebagian besar dari AS, tapi di saat yang sama juga dikenal sebagai negara yang “enggan berkorban”.

“Mereka (Saudi) menyewa orang asing untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Beberapa orang Saudi hanya akan bermimpi mempertaruhkan hidupnya demi negara mereka. Untuk Perang Yaman, Arab Saudi telah merekrut ratusan tentara bayaran dari Kolombia. Saudi memiliki kekuatan udara yang cukup untuk menghancurkan hampir semua negara di muka bumi. Namun, meskipun kemenangan dalam perang terjadi di darat, di situ Arab Saudi justru lemah dan mengenaskan,” tulis Kinzer.

Kinzer menilai kondisi Saudi itu sangat kontras dengan Iran.

“Seandainya mereka (Iran) meyakini keimanannya terancam, mereka akan tumpah ruah ke medan laga, walaupun seandainya mereka berjuang hanya dengan bersenjatakan ketapel. Perbedaan dalam semangat patriotik ini bisa dimengerti. Saudi eksis baru 83 tahun, sedangkan Iran sudah lebih dari 2500 tahun,” ungkapnya.

Kinzer menilai Saudi sengaja memprovokasi krisis ini dengan tujuan setidaknya memaksa AS supaya berpihak. Hanya saja, memilih mendukung Saudi daripada Iran bagaimana juga akan merugikan kepentingan AS sendiri.

Mantan reporter New York Times ini mengingatkan bahwa Saudi adalah negara yang sangat kasar dan represif serta menjadi donator utama kelompok-kelompok teroris.

“AS sudah menyadari bahwa Arab Saudi adalah negara yang sangat represif. Parahnya lagi, Saudi adalah donatur kunci bagi Negara Islam (ISIS), al-Qaeda, dan Taliban,” ungkap Kinzer sembari menyinggung pernyataan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton pada tahun 2009 bahwa dana dari Saudi merupakan sumber paling signifikan bagi kelompok-kelompok teroris di seluruh dunia. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL