salafi wahabiNew York, LiputanIslam.com – Situs New York Times, Sabtu (2/7), memuat artikel karya Nicokholas Kristof yang membeberkan besarnya peranan dana Arab Saudi dalam pembumian faham Wahabisme dan terorisme, dan menyerukan kepada negara-negara pendamba ketentraman di dunia supaya segera duduk bersama mendiskusikan perilaku Arab Saudi ini.

Kristof memulai artikelnya dengan pertanyaan tajam, “Negara Islam mana yang merayakan seorang Kristen abad ke-15 Masehi yang berperang melawan para penyerbu Muslim sebagai pahlawan nasionalnya? Negara mana yang sedemikian pro-Amerika sehingga memiliki patung Bill Clinton di ibu kotanya, memiliki toko pakaian perempuan bernama “Hillary” di sebuah jalan bernama Bill Clinton? Negara Islam mana yang penduduknya secara perkapita dibanding yang lain di Eropa terbanyak pergi keluar negeri untuk berperang demi ISIS?” Dia menjawab bahwa negara itu adalah Kosovo, negara mungil di bagian tenggara Eropa.

Dia melanjutkan bahwa setiap kali terjadi serangan teror oleh ekstrimis Muslim maka yang segera terlintas dalam benak semua orang ialah musuh bersama yang bernama ISIS dan al-Qaedah, tapi dalam hal ini ada “sahabat” semisal Arab Saudi yang perlu disorot.

Menurutnya, sudah sekian dekade Arab Saudi secara “ugal-ugalan” mendanai dan memromosikan Islam garis keras dan intoleran versi Salafi/Wahabi yang terbukti telah memroduksi teroris.

Dia menyebutkan contoh paling nyata di Balkan. Dua negara Kosovo dan Albania beberapa tahun lalu adalah negara yang sedemikian moderat dan toleran. Di Kosovo bahkan terdapat patung Clinton. Penduduk Kosovo sangat menghormati Amerika Serikat (AS) dan Inggris, karena dua negara inilah yang menghentikan aksi pembasmian etnis yang dilakukan oleh orang-orang Serbia pada tahun 1999. Tak kurang, sebagian anak muda bahkan dinamai Tony Blair (Perdana Menteri Inggris periode 1997 – 2007).

Namun demikian, lanjut Kristof, dalam kurun waktu 17 tahun terakhir, Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk Persia lainnya menggelontorkan dana ke negara muda bernama Kosovo ini sambil mencekokinya dengan ekstrimisme. Akibatnya, sebagaimana diakui oleh pemerintah Kosovo, tak kurang dari 300 warga negara ini bertualang ke Suriah dan Irak dan bergabung dengan kelompok-kelompok teroris, terutama ISIS.

Fenomena ini menyebabkan keprihatinan para tokoh Muslim moderat, termasuk Zuhdi Hajzeri yang menjadi imam sebuah masjid kuno yang berusia 430 tahun di kota Peja. “Arab Saudi sedang menghancurkan Islam,” katanya.

Hajzeri dan para tokoh moderat lainnya mencoba melawan fenomena ini, termasuk dengan mengoperasikan website Foltash.com yang sarat kritikan pedas terhadap faham Wahabisme. Tapi mereka akhirnya tak berdaya karena Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab dan Bahrain telah menjadikan uang sebagai senjata untuk memromosikan Islam garis keras melalui badai publikasi, video dan lain-lain.

“Saudi benar-benar mengubah Islam di sini dengan uang mereka,” kata Visar Duriqi, mantan imam masjid di Kosovo yang menjadi seorang jurnalis yang kerap menulis tentang pengaruh ekstremis. Duriqi menyebutkan dirinya sebagai contoh. Dia mengaku pernah dicuci otak dan menjalani fase ekstrimis di mana dia menyerukan pemaksaan hukum Syariah dan pembolehan kekerasan.

Nicokholas Kristof melanjutkan bahwa kondisi demikian bukanlah problema Kosovo saja, melainkan sudah menjadi problema negara-negara dunia. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL