Teheran,LiputanIslam,com-Menyusul pidato terakhir menlu AS perihal strategi baru Washington menghadapi Iran usai keluar dari JCPOA, kantor berita Prancis (AFP) melakukan liputan lapangan untuk melihat tanggapan warga ibukota Iran.

AFP dalam laporannya menyebutkan, meski sebagian pejabat AS berharap bahwa tekanan atas Iran akan memicu protes warga negara ini terhadap pemerintah, namun tampaknya harapan ini tidak terwujud, setidaknya di Pasar Tajrish, Teheran.

Warga Teheran yang diwawancarai AFP secara umum bersikap tidak peduli terhadap ancaman-ancaman Mike Pompeo.

Bahkan, lapor wartawan AFP, selama beberapa jam dia berkeliling di komplek perbelanjaan tersebut, tak satu pun yang mengaku pernah mendengar pidato menlu AS.

Saat mereka diberitahu poin-poin penting pidato Pompeo, warga mengatakan bahwa itu adalah statemen yang selalu diulang AS selama berdekade-dekade.

“AS berpikir bahwa mereka pemilik dunia. Mereka ingin menentukan keputusan untuk negara-negara lain dan memiliki segalanya. AS ingin memiliki energi dan bom nuklir lebih dari yang dimiliki sekarang. Mereka menghendaki agar negara-negara lain tidak memiliki apa pun,”kata Omidi, seorang pria tua yang datang berbelanja di Tajrish.

Seorang pegawai kantor pemerintahan bernama Mousavi mengatakan kepada AFP, Iran sudah diembargo sejak lebih dari 30 tahun lalu. “Andai embargo ini memang efektif, semestinya sudah berdampak sejak tiga dekade lalu. Iran tak pernah peduli embargo dan selalu bisa bertahan,”ucapnya.

Di akhir laporan AFP disebutkan,”Pompeo dalam pidatonya mengklaim AS ingin berunding dengan Iran. Namun tampaknya Iran tak bisa diyakinkan untuk mempertimbangkan 12 syarat yang diajukan Pompeo. Ishaq Jahangiri, wapres Iran, dalam laman Twitter-nya menulis: Pada akhirnya pemerintahan Trump akan sadar bahwa Iran harus diajak bicara dengan bahasa santun, bukan ancaman.” (af/yjc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*