Sumber: twitter.com

Jakarta, LiputanIslam.com– Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latif menyatakan bahwa saling memaafkan adalah langkah terbaik untuk mengubur masa lalu dan menjadi tonggak untuk bangkit bersama demi membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu ia sampaikan menanggapi langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mempertemukan mantan narapidana terorisme (napiter) dan korban (penyintas) dalam sebuah kegiatan beberapa waktu lalu.

“Saya sangat mengapresiasi pertemuan itu. Upaya mempertemukan mantan napiter dengan penyintas ini sangat penting. Dengan begitu mereka bisa saling berempati melihat bagaimana kondisi korban, tapi di sisi lain korban juga bisa memahami bahwa aksi-aksi terorisme itu mempunyai akar sosial sebagai penyebabnya,” ujar Yudi di Jakarta, pada Selasa (6/3).

Menurut Yudi, melalui silaturahmi itu diharapkan para mantan napiter benar-benar tersadar dan menyadari kesalahan masa lalunya. Mereka akan menyadari dan tidak akan mengulang aksi-aksi kekerasan yang menimbulkan penderitaan. Bahkan para mantan napiter dapat terdorong melakukan upaya yang lebih produktif, capacity building, dan meningkatkan ilmu pengetahuan agar bisa menjalani hidup lebih baik.

“Dengan begitu masing-masing pihak bisa melihat situasinya secara langsung dan tidak hitam putih lagi. Daripada membuat aksi-aksi yang hanya akan menimbulkan masalah baru, lebih baik mari bangkit bersama menyelesaikan masalah penanggulangan terorisme ini. Saya kira cara BNPT ini sangat brilian,” ucapnya.

Namun Yudi menilai silaturahmi lebih baik digelar secara terbuka ketimbang diam-diam yang nantinya bisa menimbulkan kesalahpahaman satu dengan yang lain. Dengan digelar secara terbuka, maka bisa saling memahami, merasakan, dan bisa saling membantu, gotong royong untuk bangkit bersama untuk menjadi manusia yang baik.

Aksi terorisme, lanjut dia, ada kaitannya dengan relasi politik masa lalu. Oleh karena itu, ia berpesan para elite di negara ini agar jangan sampai menjadikan politik sebagai alat kepentingan jangka pendek yang berpotensi menimbulkan korban rakyat yang tidak berdosa.

“Begitu elite sudah bisa bersalaman, konflik di bawah belum tentu berakhir. Jadi hati-hati menggunakan trik-trik atau manuver politik yang berpotensi mengadu domba, mobilisasi, persekusi, dan saling serang yang menimbulkan korban yang akan melahirkan dendam baru, yang akan mengembangbiakkan terorisme di masa mendatang,” katanya.

Yudi juga mengungkapkan bahwa apacity building harus terus ditingkatkan karena terorisme ada kaitannya dengan masalah sosial. Salah satunya, himpitan ekonomi membuat seseorang mudah sekali terbuai  paham baru yang memberi harapan. Itulah yang membuat penting dilakukan peningkatan pengetahuan di bidang ekonomi atau usaha baru.
“Kesenjangan sosial yang terlalu lebar harus dipersempit agar bibit radikalisme yang ibarat ranting-ranting kering yang mudah terbakar, tidak mudah tersulut api,” tambahnya. (ar/Sindo/Tribun).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*