Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Cendekiawan Yudi Latif mengungkapkan kegotongroyongan menjadi titik spiritualitas dari kemajemukan yang ada di Indonesia. Menurutnya, warna-warna atau keberagaman Indonesia sesungguhnya lahir dari nilai spiritualitas. Hal itu disampaikan Yudi Latif pada Stadium General Temu Kebangsaan Orang Muda di Gedung Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat, seperti dilansir NU Online, pada Minggu (30/4).

Yudi Latif menjelaskan, bahwa spiritualitas memancar ke dunia dengan berbagai warna. Dalam konteks Indonesia, ia hadir dalam bentuk keberagaman agama, budaya, dan suku. “Itu tergantung warna atau bejana. Dalam konteks Indonesia, Tuhan hadir lewat bejana kesukuan dan kebangsaan. Karenanya kita bisa menjadi orang Sunda seratus persen, orang Jawa seratus persen, tetapi sekaligus orang Islam seratus persen,” ungkapnya.

Menurutnya, bahwa spiritualitas itu berasal dari kata spirtus. Spirtus pada masa lalu sering digunakan sebagai bahan bakar yang memancarkan cahaya.“Spirtus itu berarti bercahaya. Dari gelap menjadi menyala kembali. Spirtus atau spiritualitas ini akan berdampak menyegarkan kembali jiwa kita,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, spiritualitas akan terwujud apabila manusia mampu membangun relasi kasih sayang ke tiga arah, yakni kasih sayang terhadap dunia atas (Tuhan), tengah (sesama manusia), dan bawah (alam semesta).“Mulai dari kosmologi Batak, atau Illagaligo di Makasar, semua bicara itu yaitu membangun kasih sayang dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.  Kalau ketiga ini menjadi satu kita menyebutnya gotong-royong,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Yudi Latif mengungkapkan bahwa konsep gotong royong juga diajarkan di semua suku yang ada di Indonesia. Ada ‘silih asah, silih asih, silih asuh’ di masyarakat Sunda. Lalu di Maluku ada semangat basudara. Orang Melayu ada istilah ‘asap di gunung garam di laut bertemu dalam belanga’. Di Jawa disebut ‘mamayu hayuning bawana’. Di Kristen disebut ‘kasih’. Dan dalam Islam disebut ‘rahmatan lil alamin’.

Ia juga mengungkapkan, bahwa Pancasila merupakan hasil perenungan yang sangat mendalam para pendiri bangsa terhadap nilai-nilai bangsa Indonesia. “Maka titik sentral dari Pancasila benar dan tepat, yaitu saling mengasihi satu sama lain dalam gotong royong,” ucap Yudi. (Ar/NU Online).

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL