Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latif mengingatkan para elite politik agar tidak mengembangkan ujaran-ujaran yang berpotensi memecah belah masyarakat. Menurutnya, elit politik harus mampu membangun persatuan dan memperkuat tenun kebangsaan. Hal itu disampaikan Yudi pada Acara Seminar Nasional di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, pada Kamis (19/10).

“Krisis sosial terjadi justru yang harus dilakukan oleh para elite politik adalah bagaimana kemampuan merajut lagi tenunan yang robek dengan cara political correctness. Jangan mengembangkan ujaran-ujaran yang justru mengarah pada proses perpecahan dan diskriminasi sosial. Dalam suatu krisis justru harus mengembangkan bahasa politik yang menyatukan dan memperkuat tenunan kebangsaan,” ucapnya.

Menurut Yudi, demokrasi akan berjalan baik jika ada integrasi yang mengarah pada keadilan sosial serta persatuan dan kesatuan. “Gagasan tentang pemerataan keadilan itu harus diperbaiki tapi tidak dengan cara mengorbankan persatuan. Keadilan tidak bisa diperjuangkan dengan mengorbankan persatuan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia juga menjelaskan tentang peran Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Yudi, Pancasila adalah peredam ketegangan-ketegangan sosial. “Sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) mengantisipasi bahwa ketegangan sosial bisa muncul karena perbedaan agama,” ungkapnya.

Sila kedua mengantisipasi ketegangan sosial yang terjadi karena globalisme dan lokalisme. Sila ketiga mengantisipasi ketegangan sosial yang terjadi akibat perbedaan suku, etnik, bahasa, dan budaya di seluruh Indonesia. Sila keempat meredam ketegangan yang timbul akibat perbedaan pilihan politik. “Sila kelima mengantisipasi bahwa ketegangan sosial sangat mungkin terjadi akibat kesenjangan sosial,” terang Yudi. (Ar/NU Online/Kompas).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL