Mahasiswa ASYogyakarta, LiputanIslam.com — Masih ingat kejadian pada penutupan Kongres Umat Islam Indonesia yang diadakan di Yogyakarta? Kala itu, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Irfan S. Awwas, menolak berdiri saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tak hanya itu, Irfan pun sempat memprotes pencantuman Pancasila sebagai dasar negara dalam Risalah Yogyakarta.

Ketika Pancasila ditolak sebagai dasar negara oleh segelintir rakyat Indonesia, sikap berbeda justru datang dari mahasiswa Amerika Serikat (AS). Sedikitnya sembilan mahasiswa asal negeri Paman Sam tersebut belajar Pancasila di Yogyakarta. Rencananya  mereka akan menetap di daerah Godean Yogyakarta dengan hidup menumpang di rumah-rumah penduduk.

Kegiatan mahasiswa Amerika tersebut merupakan program yang diprakarsai Fakultas Filsafat UGM, Universitas Udayana Bali, dan School International Training (SIT) Study Abroad Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengenalkan Budaya dan kehidupan beragama di Indonesia di kalangan anak muda AS. Para mahasiswa akan belajar di Indonesia kurang lebih selama 3,5 bulan.  Sebelumnya mereka sudah tinggal di Bali selama 3 minggu.

Dr Arqom Kuswanjono, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja Sama Alumni, Fakultas Filsafat UGM mengatakan, mahasiswa asal AS tersebut tidak hanya belajar budaya, mereka juga akan dikenalkan tentang Pancasila sebagai dasar negara.

“Selain belajar agama, kebudayaan, dan sejarah Indonesia, mereka juga belajar tentang pancasila dan kearifan lokal,” kata Arqom, seperti dilansir Kabar Kampus, 18 Februari 2015.

Menurutnya,  studi singkat mahasiswa Amerika Serikat dalam program SIT ini rutin digelar setiap enam bulan sekali. Selain untuk memenuhi tugas belajar dari kampusnya masing-masing, mahasiwa asing ini dikenalkan tentang keragaman agama di Indonesia. Tidak hanya dikenalkan agama, para mahasiwa ini dikenalkan tentang berbagai komunitas aliran kepercayaan.

Sementara itu, Hana Aghababian, 20 tahun, mahasiswi Grettysburg College, ia tertarik untuk mempelajari berbagai agama-agama yang ada di Indonesia. Secara kebetulan sesuai dengan minat studinya di bidang kajian antropologi budaya kuno dunia.

Meski dia mengaku bukan dari kelurga religius, Hana tertarik untuk mengamati kehidupan masyarakat dalam mempraktikkan ajaran agama masing-masing. “Di Bali saya belajar agama Hindu, saya bisa mengenal nama-nama Dewa dan Dewi,” katanya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL