Kopi biji salakJakarta, LiputanIslam.com — Siapa sangka, biji salak yang selama ini selalu dibuang atau dianggap tidak berguna oleh kebanyakan orang, ternyata oleh tanga dingin Eko Yulianto, bisa disulap menjadi pundi-pundi rupiah. Eko, yang berasal dari Jawa Tengah ini berhasil mengolah biji salak menjadi kopi nikmat, produk kuliner yang bernilai tinggi.

Dalam acara Citi Micro-Entrepreneurship Awards (CMA) yang digelar Citi Peka bekerjasama dengan UKM Center FEUI, Eko menceritakan soal jatuh bangun memulai usaha, hingga menemukan usaha unik yang menjadikannya sebagai pengusaha muda dari hasil keringatnya.

Jiwa wirausahanya ini mulai diasah sejak masih duduk di bangku kuliah. Ia pun memilih berwirausaha karena bosan bila menjalani pekerjaan sebagai pegawai perusahaan, yang hanya duduk diam di satu ruangan kerja.

“Dulu fokusnya masih kuliah, setelah lulus kuliah saya kerja di bank tapi cuma beberapa bulan, bosan cuma duduk-duduk doang. Akhirnya saya pilih resign,” katanya, seperti dilansir Detik, 10 Maret 2015.

Bermula di 2012, ia mulai membuat kreasi dengan mengolah biji salak menjadi bubuk kering, yang apabila diseduh dengan air panas akan menghasilkan minuman dengan tekstur rasa yang sangat mirip dengan kopi.

Aroma khas kopi memang tidak tercium, namun sejak seruputan pertama, rasa pahit bercampur asam khas kopi Arabika langsung terasa begitu kental. Lantaran rasanya yang mirip dengan kopi, ia menamakan produk kulinernya tersebut dengan Kopi Biji Salak alias Kopi Salak.

“Coba saja, rasanya kopi banget,” tuturnya sambil menyodorkan segelas kopi salak yang sudah diseduh dengan air panas.

Ia mengaku hanya bermodal Rp 500.000 saja untuk memulai usahanya. Produk olahan yang dijajakannya pun tidak hanya kopi salak, tetapi juga ada Bolu, Keripik Salak, hingga Dodol.

“Itu olahan dari mulai daging salak sampai bijinya. Kita olah semua menghasilkan duit,” candanya.

Agar produknya mudah dikenal orang, ia pun mengembangkan merek dagang sendiri dalam bahasa jawa berbunyi Kia Bae. “Artinya begini saja,” jelasnya.

Ia mengatakan, pada tahun pertama sudah meraup omzet Rp 47 juta per tahun. Di tahun berikutnya, omzet yang dia peroleh pun terus meningkat. Pada akhir tahun 2014 ia berhasil mengakumulasi omzet hingga mencapai Rp 82 juta per tahun.

Bisnisnya yang terus berkembang berkat kepiawaiannya dalam melakukan pemasaran produk. Kepiawaiannya ini diperoleh dari pengalamannya ketika bekerja di bank.

“Ada gunanya juga kerja di bank. Jadi punya modal jaringan untuk memulai pemasaran. Dari ikut pameran-pameran, penjualan dengan online, distribusi ke pasar-pasar dan toko-toko,” jelas Eko. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*