Tehran, LiputanIslam.com– Belasan warga Indonesia yang berdomisili di Iran berkumpul untuk memperingati haul Gus Dur ketujuh pada Kamis malam (12/01/2017).

Meski digelar secara sederhana di salah satu apartemen di bilangan barat ibu kota Iran, haul KH. Abdurrahman Wahid yang diselenggarkan Gusdurian Tehran berlangsung khidmat dan meriah.

Diawali yasinan, acara yang dihadiri kalangan profesional, mahasiswa dan pelajar Indonesia tersebut menghadirkan peneliti pusat riset Iran “Encyclopedia Islamica Foundation” Prof. Mahmoudreza Esfandiyar untuk memberi refleksi atas pemikiran presiden Indonesia ke-4 itu.

“Abdurrahman Wahid bukan hanya tokoh Islam tingkat nasional Indonesia, tapi juga dunia,” kata Esfandiyar yang juga rektor Universitas Azad Tehran, seperti dilansir Parstoday.com (13/01).

Pemikiran Gus Dur, lanjut cendekiawan Iran ini, tidak hanya relevan bagi dunia modern dewasa ini, tapi juga solutif, terutama bagi dunia Islam. Lebih dari itu, warisan intelektual Gus Dur menawarkan jalan baru solutif atas problematika dunia modern yang seringkali terjebak pada diametral tradisionalisme dan modernisme.

“Posisinya sebagai intelektual Muslim terkemuka sangat cepat merespon tantangan dinamika zaman dan modernisasi dengan mengambil nilai-nilai Islam sebagai pijakan subtantif,” katanya.

Di mata peneliti Asia Tenggara ini, Gus Dur memahami ajaran Islam yang diyakininya sinkron dengan dinamika perkembangan zaman dengan mengusung setinggi-tingginya nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan manusia.

“[Misalnya] tentang prinsip toleransi, sebelum Gus Dur mengadopsi nilai tersebut dari pemikiran baru, dunia modern, beliau terlebih dahulu sudah menyerapnya dari warisan tradisi Islam,” kata pakar tasawuf yang berusia 40 tahun ini.

Pemikiran Gus Dur lahir dari cakrawalanya yang luas terhadap pemikiran modern dan kekayaan warisan pemikiran Islam.

“Abdurrahman Wahid dengan baik menggunakan pengetahuan klasik dan tradisonal, budaya masyarakat Indonesia yang kaya, Islam sufistik, tasawuf, kedalamannya terhadap studi Islam, penguasaan yang baik terhadap al-Quran dan Hadist, dan lainnya, dalam pemikirannya, sehingga beliau tampil sebagai tokoh terkemuka yang menjadi perhatian hingga kini,” tegasnya.

Sementara itu, koordinator Gusdurian Tehran, Purkon Hidayat dalam sambutannya mengungkapkan tujuan diselenggarakannya haul KH Abdurrahman Wahid ketujuh sebagai bentuk kerinduan sekaligus kecintaan terhadap Gus Dur.

“Selain sebagai mantan presiden, dan ketua PB NU, lebih dari itu Gus dur adalah pemikir besar yang perlu digali percikan gagasannya yang berserakan,” tutur alumnus fakultas filsafat dan tasawuf Universitas Internasional Al-Mostafa, Qom, Iran itu.

Di bagian lain pernyataannya, jurnalis dan peneliti Timur Tengah ini menyampaikan kekhawatiran mengenai derasnya gelombang intoleransi di Tanah air, dan maraknya hoax yang bisa berpotensi mengancam keutuhan NKRI.

“Tentu saja kita semua tidak ingin ‘Rumah Besar’ Republik Indonesia yang berpijak dari kebhinekaan akan menjadi seperti Suriah. Haul Gus Dur ke-7 kali ini sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengingatkan kita semua sebagai elemen bangsa Indonesia, meskipun kini berada jauh ribuan kilometer dari tanah air,” papar pengajar bahasa Indonesia di salah satu pusat riset Iran.

Peringatan haul KH. Abdurrahman Wahid dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh dua pelajar Indonesia yang menempuh sekolah dasar di Iran, serta pemutaran salawat, syiir tanpa waton yang dikumandangkan almarhum Gus Dur, dan tembang daerah.

Acara yang dimulai setelah shalat isya ini berakhir dengan ramah tamah dan santap malam khas kuliner nusantara. (ra/pasrtoday/islamindonesia.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL