Sumber: nu.or.id

Bandar Lampung, LiputanIslam.com– Wakil Rektor Universitas Lampung (Unila), Aom Karomani mengatakan bahwa angka persentasi mahasiswa yang ikut dalam gerakan radikal di perguruan tinggi di Indonesia masih cukup tinggi. Hal itu menurutnya, karena disebabkan salah asuh yang sudah sejak lama terjadi.

“Saya kira itu bukan persoalan siapa pemimpin perguruan tingginya tapi terjadi salah asuh sedemikian lama dan baru sekarang kita sadari fenomena itu,” ujar Aom Karomani  di Bandar Lampung, Lampung, pada Selasa (7/11).

Pernyataan itu ia sampaikan menanggapi adanya permasalahan masih banyaknya kader dan simpatisan HTI di kampus-kampus yang sampai saat ini belum sadar dan dengan diam-diam terus menyebarkan ideologi khilafah. Oleh karenanya, lanjut Aom, harus ada upaya konkrit dan sistematis sekaligus solusi dari fenomena ini dalam rangka mengembalikan para mahasiswa tersebut ke jalan yang benar.

Menurutnya, para pelajar dan mahasiswa memang menjadi sasaran empuk kelompok-kelompok intoleran  untuk  menyusupkan ideologi radikal. Hal itu karena di usia-usia inilah para mahasiswa dan pelajar tengah mencari bentuk jati diri dan masih labil kejiwaannya. “Yang perlu diperhatikan oleh semua pihak terutama pada masa peralihan dari SLTA ke perguruan tinggi,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Aom juga menyoroti sistem pembelajaran agama di sekolah menengah dan perguruan tinggi yang belum mampu menjawab permasalahan bangsa. “Harusnya belajar ilmu agama tidak dilakukan secara tekstualis. Harus melihat konteks dan realitas yang muncul ditengah-tengah masyarakat,” ungkapnya. (Ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL