ilustrasi-narkoba

Ilustrasi narkoba

LiputanIslam.com — Sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menolak grasi para terpidana mati kasus narkoba, yang berlanjut dengan eksekusi tahap I dan II, kontroversi terus terjadi di dalam dan luar negeri. Setiap kali eksekusi mati dilakukan, negara-negara asal terpidana tersebut bereaksi dengan menarik kedutaan besarnya dari Indonesia. Sebut saja Brasil, Belanda, dan hari ini, Australia.

Seperti diketahui, vonis hukuman mati terhadap penjahat narkoba telah diatur dalam undang-undang anti narkoba, dan Indonesia adalah negara yang berdaulat atas hukum dan tidak bisa diintervensi. Selain itu, Jokowi juga telah berkomunikasi dengan pemuka Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dan kedua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut mendukung penuh hukuman mati tersebut.

Apakah Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang menjatuhkan vonis mati bagi para penjahat narkoba? Menurut media Economist, mengutip data dari Harm Reduction International (HRI), sedikitnya ada 32 negara yang memiliki hukuman mati di undang-undangnya untuk kasus penyelundupan narkoba. Namun proses eksekusi mati cenderung langka di beberapa negara. Hanya ada sejumlah negara yang secara rutin menjalankan eksekusi mati untuk kasus narkoba. Berikut daftarnya, seperti dikutip dari Kabar 24:

Singapura

Siapa saja yang membawa sebanyak 500 gram ganja atau 15 gram heroin dapat berhadapan dengan vonis hukuman mati. Hukuman mati di Singapura dilakukan dengan cara digantung.

Dari tahun 1991 hingga 20014, menurut mediaThegooddrugsguide, ada sekitar 400 orang yang dieksekusi di tiang gantungan karena kasus perdagangan narkoba di Singapura, dan beberapa dari mereka merupakan warga asing.

Malaysia

Negeri Jiran ini juga memiliki hukum yang keras terkait kasus narkoba. Siapa saja yang kedapatan membawa sedikitnya 200 gram ganja atau 15 gram heroin akan dituntut hukuman mati.

Dengan jumlah itu, seseorang sudah dianggap sebagai pengedar narkoba di negara tersebut. Apabila mereka membawa jumlah yang lebih sedikit dari itu, tetap saja hukumannya akan keras, bisa berupa hukuman penjara bertahun-tahun dan denda yang sangat besar.

Republik Islam Iran

Negara ini bisa dibilang salah satu negara yang paling sering melakukan eksekusi mati untuk para pengedar narkoba. Di bawah hukum Islam, setidaknya ada 500 pengedar narkoba yang dieksekusi tiap tahunnya.

Lebih dari 10.000 pengedar dan pengguna narkoba telah dihukum mati di Iran dalam beberapa dekade terakhir. Kepemilikan narkoba dan penggunaannya juga akan dihukum dengan sangat keras. Jika kedapatan membawa ganja beberapa gram saja, seseorang bisa dihukum cambuk sebanyak 70 kali.

Arab Saudi

Kerajaan ini memang terkenal dengan hukumnya yang keras. Kepemilikan dan konsumsi narkoba akan dihadapkan pada sejumlah hukuman, mulai dari hukum cambuk di depan umum hingga hukuman penjara.

Sementara untuk para pengedar narkoba, hukumannya akan sama dengan para pembunuh dan pemerkosa, yaitu hukum pancung yang dilakukan di depan umum.

Republik Rakyat Tiongkok

Dari Januari 2005 hingga Januari 2006, Tiongkok  telah menjatuhi hukuman kepada 53.000 orang terkait kasus narkoba. Lebih dari 22.000 mendapatkan hukuman berat, termasuk hukuman penjara seumur hidup hingga hukuman mati.

Pelanggaran narkoba yang mendapat hukuman berat termasuk menyelundupkan narkoba, mengedarkannya, dan memproduksinya.

Tiongkok juga  mengeksekusi tahanan terkait kasus narkoba, pada 2007 saja, ada sekitar 470 orang yang dieksekusi mati.

Abu Dhabi

Abu Dhabi juga tidak akan segan memberi hukuman berat bagi siapa saja yang kedapatan membawa narkoba.Mengedarkan, menyelundupkan, dan memiliki narkoba bahkan hanya dalam jumlah yang sangat kecil saja bisa membuat seseorang dihukum penjara minimal selama empat tahun. Meski begitu, jumlah pelaku narkoba yang dieksekusi mati memang tidak sebanyak di negara lainnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL