Islam IndonesiaYogyakarta, LiputanIslam.com — Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Memiliki dua organisasi keagamaan yang telah dikenal dunia seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), seringkali keislaman masyarakat ini dinilai ideal dan banyak ditiru oleh negara-negara lain.

Indonesia jelas berbeda dengan negara-negara Arab, yang tidak seheterogen Indonesia tetapi kawasan tersebut selalu berkonflik sepanjang sejarah. Para orang tua di Indonesia sering berkata, bahwa sejak mereka lahir, hingga kini, Timur Tengah masih tetap diliputi peperangan.

Dan celakanya, setiap krisis yang terjadi di kawasan tersebut, sangat seringkali dikait-kaitkan dengan isu sekterian, seperti etnis, dan agama. Hal ini paling efektif dalam menggalang simpati/ kekuatan untuk menekan pihak lawan.

Bisakah Indonesia belajar dari  berbagai konflik Timur Tengah?

Hari ini, Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) menghadiri sekaligus membuka Kongres Umat Islam Indonesia VI yang di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Dalam pembukaan tersebut turut hadir ketua MUI Din Syamsudin, Buya Syafii Maarif, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan sejumlah perwakilan ormas Islam serta kesultanan se-Nusantara.

Dalam kesempatan tersebut, JK menyampaikan umat Islam di Indonesia harus menjadi contoh bagi umat-umat Islam di negara lainnya. Hal ini karena, sebagai negara dengan jumlah penganut Islam terbesar, Indonesia memiliki potensi besar dalam peranan penataan dunia.

“Hanya kita yang bisa menjaga keutuhan negara kepentingan nasional, padahal terbanyak umat Islam-nya. Kita lihat apa yang terjadi Pakistan, Libya, Irak, Iran, Mesir, dan lainnya, semuanya kisruh. Karena itu bangsa besar ini harus menjadi pelopor pemikiran. Kita perlu menjadi referensi pemikiran Islam yang moderat, Islam jalan tengah,” katanya dalam sambutan, seperti dilansir merdeka.com, 9 Februari 2015.

Selain itu, JK juga meminta agar umat Islam Indonesia meneladani Nabi Muhammad Saw, salah satunya, dengan menjadi pengusaha.

“Dari 100 orang miskin, 90 adalah umat kita, dari 100 pengusaha kaya 10 sampai 12 orang Islam. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah seorang pengusaha, seorang pedagang,” kata JK disambut tepuk tangan para peserta Kongres.

Menurutnya, selama ini umat Islam di Indonesia belum memaksimalkan dirinya untuk mengembangkan diri. Padahal jika semua umat mengikuti apa yang dilakukan Nabi Muhammad, maka akan muncul banyak pengusaha yang baik.

“Kita belum maksimum. Kita harus teladani bagaimana berdagang, Nabi berjuang, berdagang, sikap enterpreneurship sudah ada, lihat sahabat Nabi semuanya pedagang,” ujarnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL