Sumber: nu.or.id

Tangerang, LiputanIslam.com– Cendekiawan Islam Indonesia, Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan bahwa kitab Ihya’ Ulumiddin merupakan salah satu karya Imam Al Ghazali yang paling fenomenal dan berpangaruh cukup luas. Tidak hanya di kalangan muslim Sunni dan Syi’ah, tetapi juga dikagumi oleh kalangan Yahudi. Hal itu disampaikan Ulil saat acara diskusi rutin yang diselenggarakan oleh Islam Nusantara Center (INC), Ciputat, Tangerang Selatan, pada Sabtu (31/3).

Ulil mengatakan bahwa ada seorang filosof Yahudi yang menulis ringkasan Ihya’ Ulumiddin yang ditujukan untuk orang-orang Yahudi. Ringkasan itu ditulis ke dalam bahasa Arab dengan aksara Ibrani. Tulisan tersebut merupakan rangkuman dari pemikiran Imam Al Ghazali dari Ihya’ Ulumiddin mengenai pendisiplinan batin, atau dalam kitabnya disebut sebagai tahdzibu an nafs.

“Aspek pendisiplinan batin inilah yang merupakan pencapaian luar biasa dari Imam Al Ghazali,” ungkap Ulil.

Ulil menjelaskan bahwa hikmah merupakan salah satu kebenaran yang dikehendaki oleh umat Islam dalam proses beragama. Jika diistilahkan dalam bahasa hadits disebut sebagai ihsan, yang merupakan puncak kebenaran yang hendak dituju oleh agama Islam. “Untuk mencapai hikmah itu tidak bisa dilakukan secara instan, diperlukan proses yang panjang, apabila ada orang yang yang menghendaki hikmah dengan ujuk-ujuk, pasti tidak akan dapat,“ katanya.

Menurutnya, ada beberapa proses yang harus dilampui untuk mencapai hikmah, salah satu proses untuk mendapatkannya adalah dengan dimulai dari hati atau iman. Iman merupakan sikap hati yang tepat untuk menghadap pada Tuhan dan merupakan syarat yang paling utama. Jika seseorang tidak memiliki iman, maka ia akan kehilangan kompas untuk menuju hikmah.

“Seseorang yang ingin mencapai kota A, namun ia tidak memiliki mobil, maka dia tidak akan pernah sampai,” ucap Ulil mencontohkan.

Hikmah harus melalui jalan syariah, yang dalam bahasa filsafat kontemporer disebut sebagai proses pendisiplinan. “Hikmah merupakan hasil disiplin atau usaha yang dilakukan secara konsisten, kalau dalam bahasa tasawuf disebut dengan istiqamah, dan dilakukan dalam waktu yang cukup panjang,” terangnya. (ar/NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*