Sumber: nu.or.id

Jakarta, Liputanislam.com– Anggota Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU), dr Heri Munajib menyatakan sekarang ini banyak kabar kesehatan yang viral di media sosial (Medsos). Salah satunya tutorial pertolongan pertama pada penderita stroke dengan cara menusuk-nusuk kupingnya dengan jarum. Dokter Heri menegaskan bahwa Cara tersebut alih-alih menyembuhkan, justru membahayakan. Tusuk kuping adalah hoax.

“Ini jelas info hoaks yang harus kita tangkal,” ujar dokter Heri yang juga saat ini menjabat sebagai Residen Ilmu Penyakit Syaraf Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, seperti dilansir NU Online Jakarta, pada Rabu (7/2).

Dokter Heri mengaku bahwa dirinya pernah mendapat kiriman via WhatsApp Group (WAG). Isinya “Teman kantor saya adalah ‘korban’ berita hoaks. Kena stroke, lalu ada yang berusaha ‘menolong’ dengan menusuk2 telinga dengan jarum. Dipikir manusia ‘selang bocor’ apa. Jarak rumah sakit lima menit. Akhirnya wafat… tanpa pertolongan…”

Oleh karena itu, dirinya bersama dokter lain yang tergabung di Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) langsung mengambil langkah konkret untuk membantu warga dalam menangkal hoaks tersebut. “Ini jelas sangat merugikan kita  semua,” tegasnya.

Dokter Heri menegaskan, tindakan menusuk telinga tidak ada efeknya sama sekali terhadap stroke. Mengikuti kabar yang tidak jelas itu justru menyebabkan penderita meninggal dunia. “Padahal sebenarnya ada kemungkinan masih bisa ditolong apabila dibawa ke ahli medis yang berkompeten,” ungkapnya.

Stroke, lanjutnya, merupakan disfungsi neurologis yang umum dan timbul secara mendadak sebagai akibat dari adanya gangguan suplai darah ke otak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah otak yang terganggu. “Ini telah dijelaskan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada 1989,” terangnya.

Sementara terkait dengan terapi, menurut Heri, terapi stroke tergantung penyebabnya apakah sumbatan atau perdarahan. Jika sumbatan maka sumbatan di dalam pembuluh darah bisa dihancurkan atau dihilangkan dengan memberi Rtpa kepada pasien, atau dilakukan tindakan neurointervensi berupa thrombectomy. Tergantung onset atau kejadian saat serangan.

“Sedangkan untuk stroke perdarahan tergantung penyebabnya. Apakah hipertensi atau peningkatan tekanan darah tinggi, kelainan anatomi pembuluh darah semenjak kecil. Atau apakah karena pengaruh konsumsi obat-obatan tertentu atau kelainan dalam darah,” ujarnya.

Dokter Heri juga berpesan kepada warganet atau masyarakat untuk tidak gampang termakan kabar hoaks. “Jangan pernah forward pesan, kecuali Anda 100% yakin bahwa pesan tersebut benar. Jangan sampai kita jadi turut andil menjadi pembunuh yang bisa menyebabkan istri orang menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim,” ucapnya. (Ar/NU Onine).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*