Dari kiri ke kanan adalah Ridwan Nawing, Mujahiddin, dan Supriyadi dari Ikatan Welder Bontang/kompas.com

Dari kiri ke kanan adalah Ridwan Nawing, Mujahiddin, dan Supriyadi dari Ikatan Welder Bontang/kompas.com

Bontang, LiputanIslam.com – Profesi tukang las masih dianggap sepele bahkan dipandang sebelah mata. Namun bagi yang sudah tahu dan bermain dalam bidang ini, ternyata profesi tukang las amat di butuhkan di beberapa industri, kilang minyak, pertambangan dan beberapa perusahaan lainnya. Tidak bisa dimungkiri lagi bahkan tukang las memegang posisi yang sangat penting dalam beberapa mega proyek. Sebut saja proyek pembangunan PLTU, Paiton di Situbondo, Jawa Timur yang membutuhkan tukang las berpengalaman dengan hasil yang berkualitas.

Di luar negeri, profesi tukang las atau welder memiliki posisi tawar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan buruh migran lainnya. Bahkan jika tak mau, para welder bisa saja menolak sebuah tawaran yang kurang menjanjikan. Disinilah kisah sukses para welder asal Bontang yang memberikan pengalaman dan niatnya untuk memajukan daerahnya dengan meningkatkan sumber daya manusia dari kota kelahiran mereka sendiri seperti di kutip dari kompas.com.

Mereka adalah Rudwan Nawing, Mujahiddin dan Supriadi yang tergabung dalam Ikatan Welder Bontang (IWB). Organisasi profesi tersebut hadir karena tercetus dari keprihatinan yang terjadi di Bontang beberapa tahun silam. Para penduduk lokal hanya menjadi penonton disaat beberapa mega proyek di bangun di Bontang.

Mayoritas tenaga kerja yang dipekerjaan bukan malah warga lokal, melainkan mendatangkan pekerja dari Jawa. Ketimpangan tersebut dibaca oleh Ahmad Yatim pada tahun 2003 yang mulai merintis pendirian IWB agar memperbaiki posisi tawar welder lokal asal Bontang. Selain itu, IWB juga memberikan upgrade pada para anggotanya dengan mengajukan proposal pelatihan ke PT Badak LNG. Dari situlah cikal bakal yang membawa beberapa welder Bontang hingga bisa melanglang buana ke seluruh dunia.

Kini kepengurusan dilanjutkan oleh Supriadi yang menjadi ketua, Ridwan sebagai Bendahara I dan Mujahiddin sebagai divisi sumber daya manusia. Masing-masing dari mereka memiliki prestasi tersendiri yang sangat membanggakan karena mampu bersaing dengan beberapa welder dari negara maju lainnnya.

Sebagai contoh Supriadi yang baru menginjak usia 31 tahun sudah memiliki berbagai investasi mulai deri kebun dan rumah dari hasil tukang las. Supriadi mengaku mendapatkan gaji 2.200 dillar AS dalam sebulan. Jika ada tawaran menarik Supriadi langsung menyambut gayung. Saat bekerja di Papua Nugini, Supriadi menjadi welder terbaik yang mampu mengalahkan welder dari Thailand, Filipina, India, Kolombia.

Lain lagi dengan Mujahiddin yang pernah mengerjakan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Paiton Jawa Timur, beberapa tahun silam. Saat hasil welder Indonesia di periksa dengan sinar X ternyata pekerjaannya lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan welder dari Jerman. Akhirnya welder dari Jerman pun ditolak untuk mengurus proyek tersebut karena hasilnya kurang rapat.

Dalam industri dikenal berbagai sertifikasi untuk welder, di antaranya Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk industri geotermal, sertifikasi dinas tenaga kerja (disnaker) untuk petrokimia, dan sertifikasi migas untuk migas. Para welder wajib bersertifikat karena proyek-proyeknya berisiko tinggi.

Saat ini, anggota IWB sudah ada 200 orang. Dari jumlah tesebut, 120 orang sudah memegang sertifikat dan 80 lainnya bersertifikasi migas. Setiap kali ada proyek, IWB yang bernegosiasi dengan perusahaan.

Para welder umumnya memulai karier dengan menjadi helper atau asisten welder. Di Bontang, gaji awal mereka Rp 2,4 juta sebulan. Meningkat menjadi welder, gajinya Rp 3,2 juta-Rp 4,7 juta, tergantung dari tingkat keahliannya. Mujahiddin pernah mendapat gaji Rp 10 juta di perusahaan lokal. ”Kalau lembur, lebih banyak lagi,” katanya.

Perusahaan asing senang dengan para welder Indonesia karena cermat, tangguh, dan jarang mengeluh. Mereka juga lebih suka menabung daripada kumpul-kumpul dan minum-minum. Maka, kehadiran organisasi menjadi penting untuk meningkatkan posisi tawar, membangun jaringan, dan meningkatkan kemampuan. Supriyadi dan kawan-kawan sudah merintisnya. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL