Sumber: viva.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengecam keras kejahatan kemanusiaan yang terus terjadi terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Ia juga mempertanyakan Nobel Perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi.

“Untuk apa Nobel Perdamaian dipertahankan jika perdamaian di depan mata dikoyak dan hanya berpangku tangan?” ujar Robikin Emhas di Jakarta, pada Minggu (3/9).

Robikin menjelaskan, berdasarkan laporan utusan PBNU yang tergabung dalam misi kemanusiaan, Indonesia adalah satu-satunya negara yang dipercaya dan diizinkan oleh Pemerintah Myanmar untuk melakukan kegiatan kemanusiaan di negara itu. menurutnya, Indonesia harus mengoptimalkan kepercayaan itu. “Semua itu didasarkan semata pertimbangan kemanusiaan, sesuai kaidah politik bebas-aktif,” ungkapnya.

Ia juga meminta masyarakat Indonesia untuk tidak terpancing dengan isu keagamaan yang dapat mengusik keharmonisan di tengah keragaman yang ada di Indonesia. Robikin juga meminta Jangan ada yang berusaha menghentikan kekerasan dengan kekerasan, apalagi dengan mendompleng isu agama.

“Saya memandang, terjadinya tragedi kemanusiaan akibat kekerasan justru karena tidak hadirnya agama dalam kehidupan bersama. Sebab, selain tentang tauhid, pesan penting lain dari agama adalah terwujudnya perdamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapnya.

Sementara, seperti dilansir NU Online pada Minggu (3/9), para kritikus Barat juga mengecam peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi yang terkesan membiarkan tragedi kemanusiaan yang menimpa 1,1 juta etnis Rohingya di negara itu.

“Aung San Suu Kyi benar-benar dianggap sebagai salah satu tokoh paling menginspirasi di zaman ini, namun perlakuan terhadap Rohingya, sayangnya, mengotori reputasi Burma,” ucap Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson.  (Ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL