YogyakartaYogyakarta, LiputanIslam.com — Pada tahun 2014, Wahid Institute menempatkan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah intoleran nomor dua se-Indonesia, akibat banyaknya kasus intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama sepanjang 2014. Selama tahun 2014, tercatat ada 21 kasus intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama yang dilakukan di Yogya, meningkat drastis dari tahun 2013 yang hanya pernah terjadi satu kasus serupa. Sedangkan urutan teratas, ditempati oleh Jawa Barat,  dengan 55 kasus pelanggaran.

Peneliti dari Wahid Institute, M. Subhi Azhari mengatakan bahwa dari 21 kasus yang dilakukan di Yogyakarta, 11 diantaranya adalah kasus antara Islam dan Kristen, seperti penyegelan gereja, pelarangan perayaan Paskah bersama di Gunungkidul dan serangan di rumah Pendeta Rosario.

Yogyakarta harus kembali kepada khittahnya, sebuah kota yang toleran dan damai. Dan hari ini, sebanyak 30 tokoh Muslim dan Buddha sedunia bertemu di Yogyakarta. Mereka berkumpul bersama untuk membahas masalah ekstrimisme dan perdamaian. Bertindak sebagai tuan rumah acara ini adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi). ‎

“Ini merupakan pertemuan puncak, tokoh-tokoh Muslim dan Buddha,” ujar Ketua Umum MUI Din Syamsuddin di sela-sela acara yang bertema “Overcoming ‎Extremism and Advancing Peace with Justice” di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Selasa (3/3/2015), seperti dilansir Detik. Sejumlah delegasi berasal dari beberapa negara di antaranya Thailand, Sri Lanka, Norwegia, Bangladesh, dan Malaysia.

Din menyampaikan pertemuan ini bertujuan untuk menyumbangkan sikap saling pengertian di antara dua umat beragama yakni Islam dan Buddha. Mengingat dua agama ini menjadi yang terbesar di kawasan Asia.  “Bahkan 3/5 penduduk Asia adalah Muslim dan Buddha. Oleh karena itu, ini adalah upaya untuk dialog dan kerjas ama,”‎ ujar Din.

Menurutnya, pertemuan antar umat beragama selama ini lebih sering mempertemukan agama-agama langit. “Kan ada agama yang lahir dari pemikiran yang dalam, seperti Sinto, Buddha, jarang terjadi,” katanya.

Hadir di acara ini ‎Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemenag Abdul Rahman Mas’ud, Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Slamet Effendy Yusuf, dan Wakil Menlu Abdurrahman Mohammad Fachir.

Bagian dari Forum ini adalah Muhammadiyah, International Network of Enganged Buddhists (INEB), International Movement for a Just World (JUST), dan Religions for Peace (RfP).

‎Acara ini akan berlanjut hingga besok Rabu (4/3/2015). Semua peserta pertemuan ini besok pagi akan bertolak ke Candi Borobudur untuk membacakan hasil pertemuan ini. “Besok pagi semua peserta akan dibawa ke Borobudur untuk menyatakan pernyata‎an bersama,” tutup Din. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*