Sumber: nu.or.id

Jombang, LiputanIslam.com– Pelayan Umat Buddha (Pandita), Subiyanto menyatakan bahwa kekerasan dan kekejaman merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Buddha. Hal itu ia sampaikan dalam forum tokoh lintas agama yang membahas tentang krisis kemanusiaan etnis Rohingya Myanmar, di Rejoso, Jombang, Jawa Timur, pada Senin (11/9).

Menurut Subiyanto, kekerasan yang dilakukan dari kalangan oknum biksu terhadap umat muslim di Myanmar pada konflik tersebut dinilai tidak sesuai dengan ajaran Buddha itu sendiri. “Inti dari ajaran Buddha sendiri tidak pernah mengajarkan kebencian dan kekejaman, intinya semua pada cinta kasih dan belas kasih,” ungkapnya.

Ia merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada etnis Rohingya. Subiyanto berharap krisis kemanusiaan ini segera berakhir. “Kami cukup prihatin karena ini masalah kemanusiaan, semoga masalah ini bisa cepat terselesaikan, Hal-hal yang berupa saran, masukan akan kami sampaikan ke umat Buddha terutama,” ucapnya.

Subiyanto menjelaskan, agama Buddha mengakui serta menerima perbedaan paham atau ideologi pada setiap agama. Perbedaan itu juga menurut ajaran Buddha tidak untuk menyulut pertikaian dan kebencian antar sesama.”Tidak ada perbedaan yang menyulut pertikaian dan perpecahan, karena di ajaran Buddha sendiri tidak mengajarkan demikian, contohnya jangan berbuat jahat,” terangnya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengimbau kepada seluruh umat Buddha untuk tidak terprovokasi terhadap pihak-pihak tertentu yang mencoba membesarkan konflik. “Kita mengimbau mereka juga untuk tidak terprovokasi karena ini bukan konflik agama,” ucap Subiyanto. (Ar/NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL