Anis Baswedan/kompas.com

Anis Baswedan/kompas.com

Yogyakarta, LiputanIslam.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengapresiasi pelaksanaan ujian nasional SMA/SMK di Dearah Istimewa Yogyakarta yang dinilai memiliki integritas kejujuran tertinggi dibandingkan daerah lain.

Bahkan laporan kebocoran soal Ujian Nasional SMA 2015 melalui Google Drive dilaporkan oleh salah seorang siswa asal SMA Negeri 3 Yogyakarta. Atas kejujurannya, KPK memberikan penghargaan khusus kepada siswa yang Jujur.

“Alhamdulillah saya bangga bahwa anak-anak di Yogyakarta selama lima tahun terakhir ini integritasnya (dalam pelaksanaan ujian nasional) paling tinggi,” kata Menteri Anies seusai menjadi pembicara kunci dalam seminar “Guru Dalam Dinamika Implementasi Kurikulum” di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), seperti dilansir Antara.

Menurut dia, dalam insiden kebocoran soal ujian nasional (UN) SMA tahun ini, mayoritas siswa di Yogyakarta justru tidak ikut menggunakannya untuk mendongkrak hasil UN.

“Jadi ini seperti anak puasa, ada gelas berisi air dingin dia memilih menonton dan tidak ikut meminum,” kata dia.

Bahkan dia memberi penilaian bahwa tingkat kejujuran siswa dalam mengerjakan soal UN mencapai di atas 95 persen dari rata-rata nasional.

Dengan demikian dia menegaskan ujian nasional di Yogyakarta tidak perlu diulang.

“Itu saya rasa satu prestasi tersendiri. Meskipun kalau kita bilang nol persen tidak mungkin. Tidak mungkin akan sempurna, tapi apakah itu akan mejadi pola saya katakan tidak,” kata dia.

Menurut Anies, pencapaian prestasi itu tidak akan dicapai oleh siswa-siswa di Yogyakarta, apabila tidak didukung dengan pola pendidikan sekolah dan orang tua yang baik.

“Jadi saya menilai bahwa ekosistem pendidikan di Yogyakarta adalah ekosistem pendidikan yang baik,” kata dia.

Menurut Anies, meskipun terdapat persoalan kebocoran soal, UN SMA/SMK yang dilaksanakan mulai 13-15 April 2015 baik yang dilaksanakan secara tertulis maupun dengan sistem berbasis komputer, secara umum telah terlaksana dengan cukup baik.

Dia menilai UN yang terlaksana tahun ini cenderung berbeda dengan tahun sebelumnya. UN tahun ini dilaksanakan sebagai bagian proses belajar, bukan untuk menguji hasil belajar.

“Saya kira kalau UN kemarin, suasananya adalah suasana belajar. Penggunaan ‘klenik’ turun, dan siswa tidak lagi mengikuti ujian dengan rasa takut,” kata Anies. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL