Sumber: nu.or.id

Jombang, LiputanIslam,com– Dosen Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Akhmad Kanzul Fikri mengatakan bahwa maraknya gerakan radikalisme di kampus-kampus sekarang ini membuat banyak pihak prihatin. Oleh karena itu, beberapa waktu lalu ratusan dosen yang tergabung dalam Asosiasi Dosen Aswaja dan NU (Asdanu) berkumpul di Unwaha Jombang berdiskusi terkait strategi menyebarkan Islam moderat ala Nahdlatul Ulama (NU) di perguruan tinggi.

“Perkumpulan ini karena kami prihatin melihat kampus yang berpotensi menjadi sarang terorisme seperti di Riau. Ini bukan musibah tapi tantangan agar kita lebih kreatif dalam berdakwah,” ucapnya di Jombang, Jawa Timur, seperti dilansir NU Online, pada Senin (16/7).

Fikri berharap kampus lebih bijak dalam mengizinkan setiap kegiatan yang dilakukan mahasiswa. Bijak yang bearti tidak mengekang kegiatan mahasiswa namun mendampingi kegiatan para mahasiswa. Dosen tidak hanya bertugas menyampaikan materi kuliah tapi juga menyelipkan pesan damai. Para dosen harus terus menyebarkan Islam moderat, Islam yang penuh kasih sayang.

“Dalam ranah akademik, sudah menjadi kelaziman jika kampus secara konsisten menggaungkan nilai-nilai dasar empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Bahkan baru-baru ini Menristekdikti Mohammad Natsir pernah mengatakan  ada tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berpotensi menjadi tempat bersemayamnya benih ajaran terorisme. Ini perlu disikapi oleh kampus dan dosen di semua kampus yang ada,” terangnya.

Para mahasiswa juga, lanjut dia, hendaknya bersikap menghargai perbedaan dan menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Menghormati tak berarti selalu harus membenarkan perbuatan tersebut. Namun, lebih pada menjaga kerukunan dalam bersosial.

“Islam intoleran menyasar anak muda karena mereka mudah dipengaruhi dan masih haus akan ilmu pengetahuan. Mereka berada dalam persimpangan jalan. Bila tanpa bimbingan orang dewasa maka mereka bisa menjadi sel-sel perusak,” ujar Fikri.

“Pasca lengsernya Presiden Soeharto banyak ideologi transnasional yang masuk ke Indonesia dan berkembang di kampus-kampus. Ideologi ini kadang membuat generasi muda latah dan lupa budaya asli Indonesia. Mereka mulai saling menyalah kan dan mengasingkan diri. Solusinya para dosen dan pihak kampus harus mengajarkan tiga pokok utama dalam beragama yakni at-tawasuth (moderat), at-tawazun (seimbang) dan al-i’tidal (tegak lurus),” tambahnya. (ar/NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*