Penjual TahuMalang, LiputanIslam.com — Tahu merupakan salah satu makanan yang sangat disukai masyarakat Indonesia. Terbuat dari olahan kedelai, tahu memiliki gizi yang tinggi. Harganya juga murah, dan dapat diolah menjadi berbagai lauk-pauk ataupun penganan. Anda suka tahu?

Tahu pulalah, yang telah mengubah hidup seorang Rudik Setiawan (30). Ia besar di lingkungan perajin tahu di Singosari, Malang. Dengan modal 25 juta rupiah, Rudik nekat untuk memproduksi tahu sendiri. “Bersama sejumlah teman di kampung, saya buka usaha produksi tahu. Usaha itu mengundang cukup laba,” cerita Rudik.

Pada awal 2004, saat harga kedelai tengah naik turun usahanya terkena imbas. Keuntungan yang didapat semakin menurun hingga akhirnya dia bangkrut. Sempat tak percaya, tapi Rudik yakin ini hanya ujian kecil yang harus dia lalui sebagai calon pengusaha sukses.

Masa-masa sulit setelah bangkrut coba dilalui dengan terus berpikir dan tak diam begitu saja. Sampai akhirnya pada Mei 2004, dia menemukan ide usaha yang tak jauh-jauh dari urusan tahu. Bedanya, kali ini dia memilih usaha menggunakan konsep makanan sehat berbahan alami alias organik.

Gencarnya kampanye hidup sehat yang salah satu poinnya mengonsumsi makanan dari bahan organik dijadikan Rudik sebagai celah bisnis. Meski harganya sedikit mahal, dia yakin ibu-ibu yang peduli kesehatan keluarga akan memakai bahan organik dari pada yang biasa. “Ibu-ibu kalangan menengah ke atas inilah yang menjadi sasaran saya,” jelasnya, seperti dilansir Merdeka.

Benar saja, usaha Rudik langsung dicari. Di awal bisnisnya, pria kelahiran Oktober 1984 itu sudah bisa mengantongi Rp 3-4 juta per hari. Buatnya, respon baik dari masyarakat menjadi penyemangat untuk tumbuh lebih baik dan besar lagi.

“Untuk sebagian orang, tahu adalah komoditas, apalagi makanan rakyat kelas bawah. Bisnis ini dianggap banyak orang tak gurih. Namun dengan pemikiran kreatif dan intuisi, saya bisa memproduksi 2.000-2.500 tahu potong tahu setiap harinya,” jelas alumnus Universitas Brawijaya itu.

Sadar usahanya mulai dilirik supermarket-supermarket terkenal di Malang, Rudik memutuskan memberi merek agar usaha tahunya tak ditiru orang lain. Lahirlah label dengan tulisan Tahu Pelangi Rudik.

“Saya juga menghabiskan waktu beberapa minggu untuk bisa menemukan teknik pembungkusan tahu agar awet dan menarik,” tambahnya.

Sebagai pembuat makanan sehat, Rudik tak lupa menciptakan industri yang ramah lingkungan. Karena itulah, dia memilih mengalirkan limbah industri ke sawah milik orangtuanya dan ternyata membuat volume produksi padi jauh lebih baik. “Saya mulai mengembangkan limbah itu menjadi nota de soya dan biogas,” ucapnya.

Hampir sebelas tahun menggeluti bisnis ini, Rudik mulai berinovasi dengan tahu organiknya. Ada tahu iris besar, iris kecil dan stik tahu. Irisan besar dijual Rp 1.700-2.000, tahu iris kecil Rp 2.000-2.500 dan stik tahu Rp 1.500. Omzet ratusan juta pun didapat.

Kini sejumlah penghargaan sebagai wirausahawan terbaik sudah didapat. Dengan pencapaian tak biasa ini, Rudik yang dulunya disapa bakul tahu kini menjadi juragan. Dia berharap ada wajah-wajah baru di dunia wirausaha Tanah Air. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL