jawapos

jawapos

Surabaya, LiputanIslam.com – Ditengah semakin banyaknya penjualan ponsel pintar murah yang telah dilengkapi dengan kamera yang mumpuni, ternyata tidak terlalu banyak berimbas bagi para juru foto. Khususnya bagi para penjaja jasa ambil gambar di area Kebun Binatang Surabaya.

Pandai melihat celah bisnis. Hal remeh seperti memotret orang di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) ternyata bisa jadi mata pencaharian andalan. Omzet per hari bisa Rp 1 juta dan mampu menghidupi 13 fotografer. Inilah gambaran Riki Wirawan-Dany Teguh Asmara, kakak beradik yang tinggal di depan KBS.

Di depan areal KBS, memang ada satu patung ikonik Surabaya. Yakni, patung pertarungan ikan hiu dan buaya yang juga menjadi lambang Kota Surabaya. Para pengunjung yang mayoritas dari luar kota tentu tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di depannya. Setidaknya, sama dengan turis yang selalu menyempatkan berfoto di patung Merlion ketika berada di Singapura, seperti dilansir dari Jawapos.com.

Siang itu, sedikitnya ada dua puluh pengunjung yang ingin berfoto. Tarif pemotretan relatif masih terjangkau. Untuk foto ukuran 5R, tiap pengunjung dipatok Rp 10 ribu dan 10R dibanderol Rp 20 ribu.

Beserta sang kakak, yaitu Riki, Dany menjalankan bisnis potret-memotret itu sekitar Desember 2013. Ketika itu, salah seorang saudara sepupunya yang bekerja di KBS memberikan ide untuk membuka stan jasa foto di depan KBS. Dia pun bilang kepada ayahnya sehingga diberi modal untuk memulai bisnis tersebut bersama Dany. ’’Modal saya hanya satu kamera dan laptop. Bekas untuk kuliah dulu. Waktu itu, saya tinggal beli satu printer,’’ tambahnya.

Setiap hari, mereka menerima cetak 15–20 foto pada hari kerja. Jumlah itu bisa melonjak hingga lima kali lipat pada hari libur. ’’Omzet kami nggak bisa dihitung per bulan, tapi harian. Kalau weekdays, sekitar dua ratus ribu (rupiah) lah. Kalau weekend dan hari libur, sejuta bisa,’’ ujar Riki sambil menenteng kamera DSLR.

Bersama lima stan jasa foto di tempat itu, stan Riki dan Dany buka pukul 08.00–16.00. Ke depan, Riki ingin mengembangkan bisnis di depan sebuah tempat wisata. Namun, harga stan yang ditawarkan cukup mahal. Riki tidak ingin menyebutkan nominalnya, namun jumlahnya mencapai jutaan. ’’Kalau saja harga yang ditawarkan cuma setengahnya, pasti langsung saya ambil,’’ tegas Riki. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL