Peyek KepitingBalikpapan, LiputanIslam.com — Peyek merupakan salah satu camilan khas Indonesia yang sangat digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Rasanya gurih dan renyak, cocok dinikmati begitu saja ataupun dijadikan pelengkap saat makan nasi. Di berbagai daerah, peyek dijadikan‘menu wajib’ yang pasti tersedia dalam perayaan, seperti Idul Fitri maupun Idul Adha.

Membuat peyek juga tidak sulit. Berbagai jenis peyek yang biasa kita temukan adalah peyek kacang, peyek teri, maupun peyek udang yang terbungkus oleh plastik bening. Namun oleh tangan kreatif Filsa Budi Ambia, peyek ‘disulap’ hingga memiliki nilai tambah yang menguntungkan.

Filsa, yang baru berusia 29 tahun itu justru mampu meraup omzet Rp 165 juta perbulan dari bisnis peyek. Lain daripada lazimnya, ia memproduksi peyek kepiting.

“Saya ingin peyek ini naik kelas. Lalu saya pikir nilai tambahnya apa, dengan kemasan biasa tentu nggak cocok. Di Kalimantan itu banyak kepiting, saya pikir tes dulu, lalu penggunaan bumbu saya akurasi dan dikemas menarik lalu diberi ke teman-teman,” paparnya. seperti dilansir Detik.

Filsa memulai bisnis barunya itu Februari 2013. Saat itu ia hanya mengolah 1 kg daging kepiting untuk menghasilkan 20 pcs peyek kepiting. Siapa sangka ini awal pintu masuk Filsa menjadi wirausahawan sukses.

“Dari modal Rp 75.000 itu akhirnya banyak yang pesan. Harganya ada yang Rp 20.000/pcs dan ada Rp 10.000/pcs, akhirnya dapat omzet Rp 150.000,” paparnya.

Pengembangan bisnis dari hari ke hari terus dilakukan Filsa. Saat ini rutinitas Filsa memproduksi peyek kepiting 2.000 pcs per hari dari 40 kg kepiting yang diolah. Berkat jerih payahnya, Filsa sudah memiliki 21 pegawai.

“Produk saya sudah dijual di toko oleh-oleh di Kalimantan Timur, ritel modern seperti hipermarket. Lalu hubungan dagang partnership dengan distributor di Jakarta. Dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi produk saya ada,” tuturnya.

Kesuksesan yang diraih Filsa dalam menekuni bisnis peyek kepiting tidak membuat sombong. Filsa mengaku pernah hidup susah dari bekerja menjadi sopir, tertipu bisnis gelap, hingga sampai menjual cincin pernikahannya.

“Tahun 2007 saya merantau ke Balikpapan, bekerja jadi sopir di perusahaan tambang gajinya tidak menutupi untuk hidup kemudian resign tahun 2010 dan buka usaha ayam goreng bangkrut. Kemudian saya coba berbisnis martabak mini franchise sudah memiliki 35 cabang bangkrut juga di tahun 2012,” tuturnya.

Pada 2012 Filsa pernah kena tipu investasi Rp 120 juta dan punya utang banyak. Pada waktu itu, dirinya sudah punya anak. “Anak saya menangis minta susu. Di situ titik balik saya sadar. Cincin kawin akhirnya dilepas dan digadai, uangnya buat beli susu, sama bayar kebutuhan hidup lain. Tinggal Rp 100.000, ini awal mula saya membuat peyek kacang lalu berubah menjadi peyek kepiting,” kenangnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*