Sumber: nu.or.id

Depok, LiputanIslam.com– Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Mukti Ali Qusyaeri menyampaikan keprihatinannya tentang sufisme di Indonesia. Padahal menurutnya, sufisme itu bukan hanya suatu perbuatan amaliyah, tetapi juga sebagai cara pandang dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Hal itu disampaikan Mukti Ali pada acara beda buku karyanya yang berjudul Islam Mazhab Cinta: Cara Sufi Memandang Dunia di Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (20/1).

“Dulu sufisme bukan sekedar ilmu atau amaliyah. Tapi sebagai cara pandang untuk mengurai persoalan,” ucapnya.

Menurutnya, setelah masa kolonial, ada satu benturan antara kita dan kolonialisme. Sebab, cara pandang kolonialisme lebih kepada hukum. “Padahal cara pandang warga Nusantara adalah sufisme. Sampai di sini, sufisme tergerus oleh cara pandang hukum sehingga yang menonjol kemudian fiqih dan syariat Islam,” ungkapnya.

era kolonial, lanjut dia, menempatkan sufisme sebagai etika saja. Sementara cara pandang yang digunakan adalah syariat Islam. “Nah, melalui buku ini saya ingin sufisme yang pernah jadi cara pandang itu dikembalikan lagi,” ujarnya.

Mukti Ali menyatakan bahwa ulama Nusantara tempo dulu merawat sufisme sebagai cara pandang untuk melihat berbagai persoalan umat. “Nusantara ini bisa kokoh karena dijahit oleh cara pandang sufisme. Kenapa bisa kokoh, ini semua karena sufisme. Yang memperkeruh justru dominannya hukum dan tauhid. Buku ini merespons realita itu agar dibaca dengan cara pandang sufisme,” terangnya. (Ar/NU Online).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*