Sumber: fajar.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa persoalan terorisme merupakan salah satu masalah yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Terorisme adalah problem bersama dan harus kita hadapi bersama. Pihak kepolisian tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu, Kapolri meminta semua pihak, baik pemerintah, ormas, dan LSM, dan masyarakat agar tanggap dan aktif bersama-sama melawan terorisme.

“Silakan, ini adalah problem kita bersama, silakan bagaimana kita mencegah supaya keluarga-keluarga, jangan sampai anak-anak terbawa, istri sampai terbawa dan lain-lain. Di samping tentunya orang tuanya ya yang perlu kita tangani, cegah jangan sampai mereka melakukan aksi terorisme,” ujarnya usai Rapat Terbatas tentang Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme, di Kantor Presiden, Jakarta, seperti dilansir Setkab.go.id, pada Rabu (23/5).

Kapolri Tito juga ikut menanggapi nasib anak-anak yang diindikasikan terlibat dalam aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo. Kapolri mengatakan, kalau biasanya pengawasan aparat dilakukan kepada para orang tua, sekarang juga akan difokuskan kepada anak-anak. Kapolri menambahkan, akan diupayakan langkah-langkah pencegahan supaya anak-anak ini tidak terekspos paham radikal oleh orang tuanya.

Sementara terkait keterlibatan TNI, Kapolri mengakui bahwa dirinya yang meminta kepada Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto agar TNI dilibatkan untuk bergabung dalam operasi memerangi terorisme. Menurutnya, operasi memerangi terorisme di Indonesia ini 75 persen adalah intelijen, sementara operasi striking atau operasi penindakan mungkin hanya 5 persen, sedangkan 20 persennya adalah operasi persiapan pemberkasan untuk ke pengadilan.

“Jadi prinsip penanganan terorisme itu adalah bagaimana memenangkan dukungan publik. Kalau publik mendukung langkah-langkah pemerintah, negara, maka terorisme tidak akan bisa berkembang,” ucapnya.

Dengan adanya dukungan publik terhadap langkah-langkah pemerintah memerangi terorisme, maka para teroris meskipun ada  tapi yang survive hanya sedikit. Tapi kalau negara tidak didukung oleh publik, misalnya over-reactive, maka akan mengalami kesulitan. “Jadi saya berpendapat bahwa saat ini yang terjadi adalah mekanismenya mirip seperti Operasi Tinombala, di mana kekuatan TNI dan Polri bergabung dalam rangka bersama-sama menangani itu,” terang Kapolri.(ar/Setkab).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*