Sumber: tempo.co

Tangerang, LiputanIslam.com– Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid ikut menanggapi kata pribumi dalam pidato perdana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada beberapa hari lalu. Menurut Yenny, penggunaan istilah pribumi tersebut tidak tepat. Sebab, kata pribumi merupakan istilah yang sensitif yang dapat menimbulkan trauma dengan kondisi sosio-psikologis masyarakat saat ini.

“Saya berharap Pak Anies ke depan memilih tidak menggunakan kata-kata yang multitafsir yang  berujung pada multitafsir dan konflik,”  ujarnya saat menghadiri  Konferensi Internasional yang bertema Reporting Religion in Asia di Universitas Multimedia Nusantara Tangerang, pada Kamis (19/10).

Yenny menilai, istilah pribumi membuat sebagian orang tersekat-sekat. Juga berpotensi menimbulkan masyarakat yang terkotak-kotak. Bahkan istilah pribumi, lanjutnya, justru dapat merugikan Anies itu sendiri. “Beliau yang golkar (golongan keturunan Arab) menjadi korban. Kata-kata yang multitafsir semacam itu berpotensi menghantam diri sendiri,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan para elit politik untuk tidak memakai  retorika atau kata-kata yang membangkitkan sentimen ekstrem. Penggunaan isu-isu populis dan sentimen etnis yang tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan persatuan terkoyak. Yenny berharap para pemimpin kedepan hendaknya menggunakan kata-kata yang menyejukkan sehingga merangkul dan menyatukan masyarakat.

“Seharusnya politisi bersaing berdasarkan program kerja, bukan menggunakan isu populis hanya untuk mengeksploitasi perasaan masyarakat,” tambahnya. (Ar/Tempo).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL