Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) A. Riawan Amin ikut mengkritisi keberadaan bank syariah. Menurutnya, konsep dan praktik perbankan syariah yang ada di Indonesia perlu ditinjau ulang, sehingga tidak menjadi industri baru yang hanya menyenangkan pihak-pihak tertentu saja. Hal itu ia sampaikan saat di Kampus Unusia Jakarta, Jakarta Timur, pada Selasa (20/2).

“Setiap orang senang dengan perannya masing-masing, yang dosen-dosen senang dia belajar dari buku, yang ulama juga senang menambah ilmu baru tentang bank, bankirnya senang ada kerjaan, bukan itu, tapi (bagaimana) perbankan syariah harus menjadi solusi bagi bangsa. Dan kalau gak tumbuh-tumbuh atau tumbuhnya ke arah yang kurang tepat nanti malah jadi backfire,” ucapnya.

Riawan mengatakan bahwa diantara yang perlu ditinjau ulang ialah tentang strategi yang selama ini diambil oleh perbankan syariah. Menurutnya, strategi dengan berjualan kata ‘riba’ itu seperti ‘mengadu’ antara bank syariah dengan bank konvensional.

“Saya nggak sepakat dengan strategi (berjualan kata riba) yang diambil. Kalau saya tidak penting syariah itu besar, yang penting transaksi syariah itu dominan,” ujarnya.

Menurutnya, jika menghendaki transaksi syariah menjadi besar, maka harus meruntuhkan hambatan-hambatan untuk semua bank di Indonesia dalam menjalankan syariah. Jika tidak bisa, maka lebih baik tidak perlu membuat bank syariah. “Enggak usah ngomong bank syariah deh. Transaksi syariah bisa dilakukan oleh siapa saja, oleh bank konvensional juga boleh asal dijamin syariah,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Riawan mengaku bahwa dirinya kurang setuju adanya bank syariah. Menurutnya, keinginan syariah pada sebuah bank tidak harus membuat bank baru dengan nama syariah, sebab itu membutuhkan biaya yang tinggi. “Kalau biayanya tinggi, maka rate-nya mahal, kalau rate-nya mahal, orang banyak nggak mau. Mau bilang masuk surga atau apa, kalau rate-nya mahal, rate-nya kaya ‘neraka’, orang nggak mau,” terangnya. (Ar/NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*