Sumber: kumparan.com

Surabaya, LiputanIslam.com– Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi kembali mengajak anak muda khususnya kalangan pelajar dan santri untuk bersama-sama melawan hoax dan radikalisme. Apalagi lingkungan sekolah dan pesantren  merupakan salah satu yang paling rentan menjadi sasaran radikalisme media sosial (medsos). Oleh karenanya, untuk melawan radikalisme dan hoax tersebut, para santri dapat memaksimalkan manfaat media sosial untuk memproduksi konten-konten positif.

Berdasarkan  hasil survei Wahid Institute tentang radikalisme di Indonesia menunjukkan, ada sekitar 0,4 persen penduduk Indonesia atau sekitar 600 ribu orang yang telah melakukan tindakan radikal di Indonesia. Yang tidak kalah penting, dari jumlah responden di atas 17 tahun, ada sekitar 7,7persen dari total jumlah penduduk Indonesia atau 11 juta orang yang berpotensi melakukan tindakan radikal. Hal ini perlu menjadi perhatian serius mengingat sasaran radikalisme online adalah kaum muda.

Ketua Umum Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU), Puti Hasni menyampaikan bahwa IPPNU sudah melakukan berbagai aktivitas untuk membentengi pelajar perempuan NU khususnya untuk dapat membedakan mana berita hoaks dan bukan.

“Para santri kini bisa menyampaikan informasi positif bahkan untuk syiar,” ucapnya pada acara dialog terbuka bertema Peran Pelajar dalam Menangkal Hoaks dan Optimalisasi Pemanfaatan Media Sosial di Festival Literasi Digital Pesantren di Taman Pendidikan Wahid Hasyim Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (17/2).

Heri Munajib dari Masyarakat AntiFitnah Indonesia (Mafindo) juga mengajak pelajar untuk lebih jeli dalam mengenali ciri-ciri berita hoaks atau berita bohong, serta ujaran kebencian di medsos. Tidak hanya itu, para pelajar juga bisa berperan menjadi pengajar bagi orang tua atau generasi tua agar lebih bijak menggunakan sosial media, tidak mudah terpancing berita, serta tidak mudah membagikan berita yang belum terbukti kebenarannya.

Sementara Staf Sosialisasi dan Komunikasi Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi), Chairul Afif mengajak para pelajar kembali memanfaatkan platform blog lewat inovasi blog dengan nama domain my.id. sebab, Popularitas media sosial saat ini sangat tinggi dan ada penurunan jumlah blogger aktif.

“Sebagai blogger pemula, pelajar atau mahasiswa bisa memanfaatkan platform my.id. yang gratis. Kapasitasnya mencapai 500 MB dan menggunakan wordpress sebagai software yg sudah terbukti andal menjadikan my.id pilihan yang menarik untuk blogger pemula,” ungkapnya.

“Materi yang menarik untuk diolah para santri misalnya tentang materi pengajian minggu ini atau isi khotbah jumat. Bisa juga pengalaman spiritual Anda ketika shalat tahajud dan lainnya. Jika konten positif bertebaran di internet maka, saya yakin konten tersebut dapat membawa manfaat kepada masyarakat,” tambah Chairul. (Ar/NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*